Past is Past

Sooner or later we’ve all got to let go of our past.

///

Lula hari ini keluar dengan menggunakan kaos kasual dan celana jogger. Arka sesungguhnya agak keheranan melihat sang adik yang mageran minta ampun itu tiba-tiba pamitan pergi menemui seseorang ketika jarum jam menunjuk angka 10. Apalagi ketika tawarannya untuk mengantar ditolak begitu saja oleh Lula. Mencurigakan. Namun Arka tidak melakukan apapun untuk itu selain kembali menonton tv.

Lain dengan Lula, ia sudah ada di dalam angkutan umum merasa gelisah. Orang yang mau ditemui sudah sampai di tempat tujuan tiga puluh menit lalu, sedangkan dirinya baru setengah perjalanan. Anehnya, tidak ada perasaan menyesal akibat menolak tawaran Arka tadi. Cuma sedikit perasaan tidak enak muncul berlomba-lomba dengan perasaan aneh lain.

Jujur saja jantung Lula berdebar tak karuan. Terutama setelah turun dari angkutan umum. Menyadari tinggal beberapa langkah lagi dari laki-laki yang mesti ditemuinya.

“Kak Jan!”

Januar menoleh. Terputar dalam kepala Lula sebagai gerakan slow motion yang dramatis.

“Sorry telat. Abis tau kan gue magerannya kayak apa.”

“Gak papa, santai aja.”

Kemudian hening. Lula bingung harus bicara apalagi. Sementara Januar entah sedang memikirkan apa.

“Nih, bukunya.” Januar tiba-tiba menyodorkan dua buku latihan soal masuk perguruan tinggi yang Lula minta beberapa minggu lalu. “Lo mau gimana bawanya?”

Rupanya Januar memerhatikan tas selempang Lula yang kecil. Pasti isinya tidak akan jauh-jauh dari power bank, kabel, atau pun headset.

Menanggapi itu, Lula tersenyum bangga seolah memenangkan medali emas olimpiade kimia. “Bawa totebag dong! Udah well prepared ya,” tukasnya sembari mengeluarkan tas tote motif kotak-kotak. Membuat Januar tergelak.

“Ya udah. Lo mau kemana abis ini?”

“Gak kemana-mana. Kalau lo, Kak?”

“Sama, gak ada rencana apa-apa.”

Ya elah. Tau gini kenapa gak pake Go-Send aja sih?”

Januar tertawa melihat wajah Lula mengerut sebal. Kali ini acakan di rambut yang Lula tunggu-tunggu tidak muncul, malah kalimat pamungkas yang meluncur dari labium sang Pemuda.

“Gak ada ruginya keluar rumah, ‘kan? Ya udah. Gua balik duluan.”

“Bye! Hati-hati.”

“Yo. Salam buat Arka.”

“Iya, Kak.”

Begitu saja; selesai.

Pertemuan antara Januar dan Lula pada satu hari di bulan Juli sudah beres. Ada untungnya Lula tidak jadi berpakaian menggunakan dress sederhana dan menata rambut. Nyatanya mereka hanya bertransaksi buku, kemudian pulang lagi. Padahal keduanya sudah sama-sama meluangkan waktu untuk saling bertemu. Kenapa tidak dilanjutkan dengan acara jalan-jajan-makan atau nonton ke bioskop seperti dulu sih?

Oh, iya. Lupa; sudah mantan.

///

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s