A Deep Thinker Like Him

Tog06 (1).gif
Kai from Vyrl Update!

A Deep Thinker like Him

.

I think having everything you want is different from happiness. Real times of happiness just pass by. I think you realize as time passes.” —Kim Jongin, GQ Magazine August 2016.

///

Perasaan waktu itu menjelaskan kenapa senyumnya mengembang terlalu tinggi hari ini. Habis, Jongin sangat suka berbicara banyak tentang nostalgia di wawancara untuk majalah. Apalagi topik yang diusung lumayan menarik: tentang apa yang berbeda dari dirinya di masa sekarang dan di masa lalu.

Saat pikiran sudah terlalu jauh melanglangbuana, akhirnya Jongin menemukan kalimat-kalimat yang pas untuk dipajang di majalah bersamaan fotonya.

“Aku merupakan anak yang agak murung dan tidak banyak bicara.”

Ini adalah waktunya pembicaraan penuh emosional dari Kim Jongin. Ada baiknya menyiapkan sapu tangan untuk berjaga-jaga karena bunyi-bunyian piano mellow sudah masuk di bagian ini.

“Dulu, aku hanya tinggal bersama ibuku di Seoul. Rasanya sangat-sangat sulit, namun kami—aku dan ibuku—tetap (berusaha) merasa senang.

“Aku sempat berandai-andai kalau saja kami punya lebih banyak uang saat itu, tidak menutup kemungkinan bahwa kami akan lebih bahagia.” Jongin tergelitik waktu mengucapkan ini, makanya ia membasahi bibir kemudian melanjutkan, “namun, kembali lagi aku berpikir bahwa tidak juga limpahan uang membawa kebahagiaan berlebih. Pun seseorang tidak bisa menjadi bersyukur juga dengan punya waktu banyak.

“Jadi, menurutku, dengan memiliki semua yang kamu mau itu sangat jelas berbeda dengan kebahagiaan itu sendiri. Sesungguhnya kamu bakal baru menyadari kalau waktu itu sudah berlalu.”

Sayup-sayup, perempuan yang mewawancarai Jongin mendengar pula suara piano yang dimainkan lebih bahagia sekarang. Tak sanggup berkata-kata selain tersenyum penuh empati.

“Aku sering bertanya pada cermin ‘kapan sebetulnya aku benar-benar bahagia?’ lalu serentetan memori berlomba mengajukan diri, dan kebanyakan dari mereka hanya bentukan dari ‘itu memang momen menyenangkan, tapi bukan jenis kebahagiaan. Lantas, apakah itu?’.

“Disimpulkanlah jawabannya adalah satu momen kecil yang melekat lama dalam diriku.”

Sekarang giliran Jongin yang tersenyum mengenang dua masa di waktu kecil.

Ketika itu, sepasang netra obsidian Jongin terbuka namun layu menggelayuti parasnya. Bahkan sarapan buatan Mama Kim melewati kerongkongan begitu saja tanpa sempat dikecap khidmat oleh lidah.

“Aku berangkat.”

Jongin sebetulnya ingin bolos hari itu, kalau boleh. Namun mengingat Mama Kim telah susah-susah cari uang untuk membiayainya dengan berapa lembar uang won, Jongin memilih menaiki subway yang salah agar tidak sampai ke Sekolah: ujung-ujungnya Jongin absen juga dari mata pelajaran Guru Do yang sangat dihindari.

Ia menyedot minuman 500 won sampai pipinya cekung dan isinya tandas hingga tetes terakhir. Lalu menghabiskan menit-menit selanjutnya dengan menyusuri jalan pulang tanpa memikirkan apapun selain lirik lagu dari walkman.

Seoul tidak sesibuk itu dulu, makanya Jongin benar-benar terkejut menemukan Mama Kim, si wanita yang lebih padat kegiatannya dibanding kota Seoul, berwajah marah hadir di tengah rute kepulangannya.

Tas sekolah dari tangan Jongin melayang ke punggungnya sendiri. Keras sekali, itu benar-benar sakit.

“Ada apa ini? Kenapa kau tidak sekolah?”

Ini bukan tentang pergaulannya di sekolah yang tidak berjalan baik, apalagi tentang mata pelajaran yang ia benci setengah mampus. Ini hanya tentang Kim Jongin yang ingin membolos.

“Aku tidak pergi sekolah karena aku tidak ingin melakukannya.”

Bayangan mengenai pukulan lain sirna begitu Mama Kim membuang napas. Kedengaran berat.

“Mau pergi kemana kau sekarang? Pulang?”

Wajahnya baru melunak sedikit, Jongin takut sampai nyaris cepirit.

“Tidak. Aku mau makan es krim.”

Namun, ia masih memiliki secuil keberanian sambil berpegang iman akan kejujuran. Dan itu berbuah manis.

“Oke. Kita pergi makan es krim sekarang.”

Satu cone es krim dibawa pulang Jongin sambil berjalan di samping Mama Kim dengan perasaan senang.

Jongin menganggap kejadian itu pantas dinobatkan sebagai momen yang paling membahagiakan. Dan ia menceritakannya dengan sangat lugas pada perempuan pewawancara berikut satu lagi cerita yang lainnya.

“Aku bahkan merasa bahagia waktu pulang ke rumah di keesokan harinya. Padahal tidak ada sepatu baru atau apa, cuma minuman 500 won lagi. Begitulah.” Tanpa alasan, Jongin tertawa kecil. “Sekali lagi aku ucapkan, sesungguhnya kamu bakal baru menyadari kalau kamu bahagia di momen itu jika waktu sudah berlalu.”

Siapapun merasa terenyuh mendengarnya. Sementara Krystal Jung menganggap semua yang ditulis di lembaran majalah itu adalah sesuatu yang mengharukan sampai-sampai tangannya tergerak sendiri untuk meraih ponsel lalu menelepon Jongin dengan otomatis.

Di nada tunggu ketiga, tersambung.

“Jongin, tahu tidak? Aku baru saja semakin dalam mencintaimu.”

Tidak ada kalimat lain. Telepon sudah ditutup bahkan sebelum Jongin sempat menimpali.

Lalu, giliran Jongin yang menelepon Krystal. Langsung diangkat.

Iya aku tahu.

Setelah itu sambungannya terputus, begitu saja. Membuat Krystal menepuk kening.

Ya Tuhan. Coba katakan padaku. Dimana lagi ada laki-laki seperti Jongin?

///

Author’s note:

Halo-halo bandung!

Aku menulis ini tepat setelah translation dari interview-nya Jongin membanjiri timeline. Isinya 89% dari translation itu deh. HEHEHE.

Terus langsung keingetan udah lama banget gak nulis Kaistal dan aku bener-bener kangen. Semenjak dua atau tiga bulan ke belakang aku masih suka nengok-nengok folder projek Kaistal yang belum terealisasikan, eh sekarang aku malah fokus ke boygroup dari agensi sebelah. *meringis* *menyembunyikan lightstick*

Ah. Ya sudah deh. Kekangenan ini sudah lumayan terbayarkan kok. Semoga aku bisa menulis lebih banyak lagi Kaistal nantinya. *insert emot ‘0’)9 ditambah emoji api*

See you when I see you!

Twelve.

Advertisements

2 thoughts on “A Deep Thinker Like Him”

  1. halo! aku nemu nama kamu dari like beberapa fiksiku dan sekarang aku emang lagi blogwalking ke blog-blog readers yang ninggalin like atau komentar dari awal tahun 2016, termasuk kamu, jadi enaknya kita kenalan official kali, ya, hehe. aku evin, btw. dan aku udah liat intro kamu, di about me (tapi shameless-nya ninggalin jejak di sini) nama kamu nissa, ya. salam kenal, nissa!

    ini kaistal yaaaa. aku salah satu penggemarnya kaistal, sebenernya, hehe. dan ini manis sekali, terutama bagian si krystal nelpon jongin cuma buat bilang “aku makin mencintai kamu” terus langsung ditutup. btw, itu beneran hasil interview kah? soalnya filosofis sekali. aku sampe kaget jongin bisa berpikiran sefilosofis itu hahahaha. btw, tulisan kamu rapi, diksinya enak dibaca dan dinikmati sampai akhir. keep writing ya! 🙂

    1. Haloo!! Aku bahkan lupa pernah ninggalin like di post mana aja saking udah lama gak buka wordpress lagi- tapi, salam kenal ya, Kak Evin! Ayo makin dekat lagi. HEHE.

      Iyaaa! Beneran hasil interview. Jongin tuh emang deh tiap interview filosofis banget, mesti baca setiap hasil interview dia sama magazine apapun.

      Thank you udah baca dan jejaknya! ♡♡♡

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s