Cerita Ulang Tahun Lula

MjAxMy1kYzU3NDFjMWFmMmRlM2Rl_515988ab840ab

Cerita Ulang Tahun Lula

by twelve

.

///

Habis lelah dibawa jalan-jalan keliling Bandung, Lula duduk di tembok marmer alun-alun. Maunya, sih, pulang—sekarang. Habis, kepalang janji sama Arka buat pulang sebelum jam enam.

Bagian nyebelinnya, Januar yang sudah tahu gimana juteknya Arka sama Lula, malah ikut duduk-duduk santai sambil minum cairan isotonik. Mana matahari juga sudah mulai turun soalnya mau ganti shift sama bulan. Dan Lula gak bisa blak-blakan ke Januar. Positif dimarahin Arka kalau gini ceritanya.

“Capek.”

“Iya, sama.”

Terus mereka hening lagi (dua puluh detik saja kok).

“Lula?”

“Iya?”

“Ultah, ya?”

Lula langsung menatap galak, cemberut pula. Gesturnya seolah meneriakkan ‘ya menurut lo?!’, sementara Januar tetap tanpa ekspresi mengeluarkan dompet. Lalu, uang lima puluh ribuan, selembar, tersodor di depan muka Lula.

“Gih. Beli kado pake ini.”

Hening sesaat.

“Serius?”

“Iya.”

“Eh, beneran?”

“Beneran.”

“Hidih. Novel sebiji aja gak cukup, Jan.” Lula ngomel, Januar mengangkat bahu.

“Saya kasih bonus, deh.”

Januar mengacak rambut Lula; itu bonusnya.

Oh, benar. Saat ini simfoni manis ala-ala sedang dimainkan. Menemani Januar yang mengantar Lula pulang dengan senyum lebar sehabis lihat Lula merona.

Lucunya cerita ulang tahun Lula. Mungkin kalau cerita ulang tahunnya Januar bakal lain lagi. Bagian sedihnya, Lula tidak akan ikut andil menorehkan sejarah di hari penting itu.

Sedih, ya?

cut.

PS. Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri dan kembaran kidokei!!!!! ❤

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s