Kelabu Menuju Gelap

tumblr_nwqc74rCGq1ur0hmeo3_1280
image credit to tumblr.com

Kelabu Menuju Gelap

by. twelve

~.~

Malam Minggu kelabu yang sebentar lagi jadi hari Minggu gelap.

Menjelang tengah malam, waktu itu, kamu menelepon lewat layanan free call KakaoTalk. Aku tidak bisa menyangkal keterkejutanku, karena memang, ya … aku sangat terkejut; kamu itu jarang-jarang sekali menelepon.

Tayangan 21 Jump Street di televisi menjadi bahan pertimbangan apakah aku harus mengangkat teleponmu atau tidak. Malam ini adalah kali pertama film itu muncul di televisi, juga sudah setengah jalan. Aku tadinya ingin menonton dengan konsentrasi tinggi hingga film kesukaanku itu habis. Namun, aku malah mengangkat teleponmu.

“Halo?”

Halo- oh, akhirnya kamu mengangkat teleponku juga.

Aku tertawa mendengarmu sedikit heboh. “Ya. Aku sedang menonton 21 Jump Street di televisi.”

Sudah kuduga,” kamu membalas dengan nada yang seolah-olah kamu tahu segalanya tentang aku. Bagaimana pun, itu membuatku hangat.

“Kamu sedang menonton juga, kah?”

“Hmmm … aku baru akan menyalakan televisi.

“Ooh, begitu.”

Setelah itu, hening. Aku sengaja tidak bicara apapun lagi karena tahu kamu pasti sedang mencari remote di ujung sana, terdengar dari krasak-krusuk yang secara tidak sadar kamu timbulkan. Beberapa saat kemudian, saat tayangan film dipotong commercial break, kamu bersuara lagi.

Ah, iklan.

“Kamu tidak beruntung.”

Ya,” ada hembusan napas panjang yang berasal dari kamu. Aku merasa ini bukan pertanda bagus. “Sa, we need to talk.”

Hening.

Aku diserang degupan jantung yang terlampau cepat, dan di saat yang bersamaan pula aku berusaha mengatur napasku agar tidak berantakan apalagi kabur.

“Katakan saja.”

Hening, lagi. Aku tidak tahan.

“Ayo katakan.”

Masih hening.

“Nan, cepat bilang,” aku mendesak.

Aku sangat sibuk belakangan ini,” kamu memberi jeda, aku menahan napas karena perutku bergejolak. “Apa ini tidak apa-apa untuk kita?

Samar-samar aku mendengar suara film kembali dimulai dari sambungan telepon. Aku jadi penasaran apa kamu sengaja mengatur volume televisi sekeras itu agar aku tidak fokus mendengarkanmu? Apa kamu sengaja baru mulai bicara saat filmnya sudah mulai lagi? Kalau memang iya, maka usahamu gagal.

Aku hanya berdeham menunggu kamu melanjutkan akibat terlalu bingung mau bicara apa.

Tapi, kamu sama-sama membisu; kita sama bingungnya.

“Apa selama ini itu berakibat untuk kita?” aku pada akhirnya bertanya, hati-hati.

Ya,” di luar dugaan, kamu menyahut cepat dengan bahasa yang dicampur-campur. “Saya enggak enak sama kamu. Karena saya sibuk, saya jarang bales your messages. We rarely talk on phone. Dan distance bikin kita jarang ketemu.

Aku tiba-tiba jadi teringat salah satu adegan dari film The Hunger Games yang sebelumnya diputar; saat Katniss Everdeen yang kaget menyadari ada banjir dari arah depan. Airnya tinggi, semacam ombak tsunami sebelum akhirnya mengeruk pasir tempat Katniss, Finnick, dan Peeta berpijak. Sementara aku, di sini menahan napas. Seolah terbawa banjir di tayangan itu, aku tenggelam dengan tenggorokan tercekat.

“Jadi?”

Apa kita harus putus?

Kali ini aku tidak hanya tenggelam, tapi serasa ditarik hingga ke dasarnya. Ya Tuhan. Bukankah baru saja kemarin aku menggebu-gebu menyiapkan diri untuk berdiskusi tentang makanan dengan kamu? Bukannya baru beberapa hari lalu kamu buat aku nyaris menangis saking senangnya? Bukannya baru … hari itu kamu bilang kamu sangat senang bersamaku? Bukankah kamu sangat bersyukur dengan adanya aku?

Ini benar-benar gila.

But I feel like I don’t want us to reach an end—“ aku nyaris menangis saat mengatakannya, sungguh. “at least, not now.” Aku menekan bibirku menjadi satu garis tipis. Kemudian buru-buru menambahkan karena aku benar-benar tidak mau terdengar egois untuk masalah ini. “Tapi itu semua terserah kamu.”

“I’m confused,” katamu terdengar putus asa. Dapat dibayangkan saat ini kamu mengusap wajahmu dengan gusar. Aku tahu, kalimatku barusan membuatmu semakin sulit. Tapi, kepalaku juga jadi pening karenanya.

So am I, Nan.”

Aku tidak lagi peduli pada tayangan konflik film 21 Jump Street di televisi (padahal adegan yang ada sedang seru-serunya: aksi pengejaran klien narkoba oleh polisi yang diperankan Channing Tatum!). Aku benar-benar hanya ingin menangis.

Sa,” kamu memanggil namaku. Aku menggumamkan ‘mm mm’ sebagai sahutan. “I’m sorry.”

Sangat tipikal.

I don’t know what to say.

“Me too,” jawabanmu terdengar terlalu lesu. Aku menjauhkan telepon gengggamku dari telinga untuk melihat jam. Sudah mau pukul setengah dua belas.

Let’s talk about this later.” Tidak sengaja, aku menarik ingus yang sempat akan turun bersamaan dengan air mata. “It’s late already,” di kalimat selanjutnya, suaraku bergetar.

Dan aku tahu kamu menyadarinya.

Tidurlah. Aku tidak akan pergi.”

Aku menghela napas panjang. Kepala yang berdenyut membuat aku mengiyakan kalimatmu dengan anggukan (padahal aku tahu kamu tidak bisa melihatnya), kemudian menutup telepon tanpa mengucap salam.

Ternyata benar apa kata temanmu kemarin malam; gagasan untuk menjalin hubungan jarak jauh begini bukan pilihan yang bagus.

~.~

Author’s Note:

Sekali lagi, lapak komentar tidak diterima. HEHEHE. Karena… ya, ini ditulis hanya untuk berbagi kegalauan pada yang membaca— *slapped*

Anyway, aku merasa judulnya alay sekali ya … #halah

Terima kasih sudah mau membaca! Dan selamat puasa semuanya ❤

Twelve.

Ps. Ayo datangi TWFI!!! Aku baru saja join dan bahkan belom mem-posting fiksi debutku di sana. Tapi, beneran deh, orang-orangnya ramah banget! They are bunch of cuties and most of them are dongsaengs. ❤

Advertisements