This is Why I can’t Believe You

this-is-why-i-cant-believe-you.png

This is Why I can’t Believe You

by twelve

.

It’s just a matter of time until we find ourselves apart—

.

.

[ This is Why We’re Breaking Up by OOHYO is now playing! ]

~.~

Wajah Krystal yang mengerut lucu adalah sesuatu yang kamu dapatkan begitu gorden pintu balkon terbuka.

Sesuatu yang diistilahkan jaman sekarang sebagai kepo membuat kamu mengurungkan niat untuk mandi dan malah menonton kejadian di bawah sana. Jaraknya memang sejauh dua meter di bawah kakimu, namun suara perdebatan Krystal dengan orang itu bisa terdengar jelas. Padahal suara Krystal itu sekecil kucing (artinya tidak kecil-kecil amat).

Duh, apa mungkin kamu yang justru punya pendengaran super ya perihal mereka?

Ah, tidak juga kok. Kamu hanya terlalu sering mengamati mereka, sampai-sampai bisa mengerti apa yang mereka bicarakan lewat pergerakan bibirnya.

“Kau benar tidak akan mampir?” itu suara Krystal, nada bicaranya membujuk. Namun, hanya dibalas tawa renyah dan satu kalimat sederhana:

“Aku masih ada pekerjaan.”

Kamu mengernyit. Entah bagaimana rasa mual sudah sampai di kerongkongan; kamu punya alergi pada kebohongan.

Huh. Selalu saja.” Krystal mengerang tak suka. Makin mengerucutlah wajahnya, ditambah tangan terlipat di depan dada sebagai bentuk protes. Itu menggemaskan, seperti biasa.

“Maafkan aku, ya? Besok lusa aku free. Janji.”

“Mari hitung sudah berapa kali kau membual, Tuan Kim.”

Di saat kesal pun Krystal memang punya gestur-gestur lucu. Salah satu di antaranya adalah suka menggunakan jari-jari lawan bicaranya untuk berhitung, seperti saat ini—di bawah sana.

Dan kamu terkejut melihat orang itu malah membungkus tangan Krystal dengan tangannya yang lain. Adegan itu membuatmu mual. Kenapa harus se-cheesy itu sih?

“Sebelas, Soojung. Ini yang kesebelas kalinya, tapi aku tidak bisa janji ini yang terakhir.”

Mata Krystal memicing, enggan percaya pada omongan murah itu. “Terserah kau saja,” katanya. “Aku lelah.”

“Maafkan aku.”

Sebelah telapak tangan diangkat, gestur yang memerintahkan untuk tidak ada lagi sanggahan. “Apology not accepted.” Dan setelah itu, Krystal berjalan memunggunginya, memasuki rumah di seberang rumahmu.

Lelaki itu tidak mengejar Krystal. Biasanya, tangan kokoh itu akan menahan milik Krystal. Kemudian, bibir mereka akan saling bertemu selama beberapa menit. Barulah mereka berpisah.

Kali ini, malah dengan lancang sepasang obsidian gelap itu menatapmu. Seolah kurang, ia menambahkan senyuman untukmu.

Ini sangat mengejutkan hingga kamu mengerjap beberapa kali; tak percaya. Sepertinya batasan itu sudah tidak berlaku lagi.

Benar, kan, Kim Jongin?

.

.

The fact that he doesn’t care about what I need

The fact that he doesn’t care about what I want

It’s just a never ending game of learning how we’re not the same

He just doesn’t really care about me.

.

.

Kamu tidak membukakan pintu belakang untuk Jongin karena kamu masih di kamar mandi tadi. Namun, Lelaki Kim itu memang kurang ajar; seenak kepala masuk rumah orang, mentang-mentang tidak ada orang lain selain dirimu di dalamnya, seolah-olah rumah ini adalah miliknya.

Meski begitu, kamu tetap tidak bisa menahan senyum melihatnya duduk di ujung sofa ruang santai. Apalagi Jongin memasang wajah sebal. Oh, Tuhan. Bagaimana ada manusia selucu itu?

“Tega sekali membuatku menunggu begini,” keluhnya yang mana membuatmu terkekeh.

“Aku memberimu waktu untuk menarik napas,” katamu, mengambil pengering rambut dari laci. Kemudian menyalakannya. “Lelah bukan? Berlari selama lima belas menit untuk mencapai pintu belakang rumah ini.”

Jongin tidak menjawab dengan suara, melainkan tangannya yang melingkar di pinggangmu. “Akan kulakukan semuanya untukmu, sungguh.”

“Apapun itu?”

Suara tarikan napas yang berat dan suara mesin pengering rambut beradu. Cengkramanmu pada pegangan pengering rambut—entah bagaimana—jadi semakin erat; jeda ini begitu menyiksamu.

“Apapun itu, kan?”

Jongin lagi-lagi tidak menjawab, malah dengan lancang membiarkan bibirnya ada di atas bibirmu setelah kalian bertatap-tatapan cukup lama.

Dengan semua ini, kamu tahu bahwa batasan itu sudah tidak ada.

Maka, kamu menahan kepala Jongin; membalas ciumannya.

Sungguh, untuk saat ini kamu ingin melupakan tetanggamu yang mana adalah pacar Jongin.

.

.

.

.

“Dasar Bodoh. Tutup gordennya kalau kau ingin berselingkuh dengan tetanggaku, Kim Jongin.”

Dan tanpa kamu ketahui, ada seseorang yang mengumpat di balik teleskopnya, dari kamar di seberang rumahmu; siapa lagi kalau bukan Krystal Jung?

.

Yes, I am so aware of how lost we are

How often we fight these days, how impatient you are

It’s just a matter of time until we find ourselves apart

Yes, I don’t really care anymore.

.

“Kecilkan volume radiomu, Soojung!”

“Oh, berisik sekali!”

“Demi Tuhan, Jung Soojung!”

“Apa kau putus dengan Jongin?”

“Hey, Gadis Gila! Matikan radionya!”

Itu semua adalah teriakan frustasi Jessica dari lantai bawah. Namun, Krystal tidak mengindahkannya; malah mengeraskan volume sampai telinganya sendiri pekak. Persetan.

“Aku hanya memberi musik untuk mereka yang sedang bercinta di rumah tetangga kita, Jess!”

.

.

You are the one,

You are the one, for me.

~.~

Author’s note:

Halo-halo!

Aku menemukan draft fiksi ini saat iseng-iseng ngeklik secara random file-file draft di laptop. Well, kebetulan begitu dibaca dari atas, idenya langsung bermunculan. Hehe.

Anyway, paragraf yang dicetak miring dan dirata tengah itu lirik lagu dari OOHYO yang judulnya “This is Why We’re Breaking Up”. Aku ngebayangin kalau Krystal di sini ngeliat Jongin sama si Kamu ngobrol lewat teleskop di kamarnya sambil muter lagu ini. LOL.

Jadi, bagaimana menurut kalian? Leave something on the review box, please! *smiles widely*

Twelve.

Advertisements