Late Night Talk

late-night-talk.

by twelve

Kim Jongin; Krystal Jung

>2000 words (Ficlet); romance, fluff, idol-life, slight!hurt/comfort, slight!comedy

.

Kalau kau berpikir bahwa cemburu adalah tanda cinta, maka kau salah besar.

~.~

Tidak ada yang spesial dari mengencani Kim Jongin.

Bagi Krystal, Jongin hanya seogggok daging berbentuk manusia dengan wajah yang tidak tampan-tampan amat, tapi dilingkupi kharisma kepalang kuat sampai-sampai terlalu banyak perempuan yang jatuh ke dalam pelukannya tanpa peduli akan Jongin tangkap atau tidak. Belum lagi, lelaki itu dianugerahi bakat menari yang luar biasa; makin banyaklah perempuan yang suka padanya.

Selain itu, Jongin adalah tipe yang lembut. Memperilakukan perempuan seperti permata yang berharga. Meskipun tidak terlalu banyak dihujani kata-kata cinta, porsinya selalu pas dan menghangatkan hati.

(Yah. Itu yang dirasakan Krystal, sih)

Kalau kau berpikir itu spesialnya Kim Jongin, maka Krystal punya pemikiran lain.

Oh ayolah! Itu memang sisi manis Jongin, tapi tidak spesial. Semua lelaki melakukannya, bukan? Dan yang perlu kau tahu adalah fakta kalau mengencani Jongin itu membosankan.

Jongin punya jadwal yang sangat padat, Krystal juga. Maka di awal hubungan, mereka sudah membuat komitmen untuk tetap menjaga komunikasi dan sebisa mungkin bertemu di waktu senggang.

Tapi itu hanya wacana alias omong kosong.

Jadwal Jongin seakan membuat anak lelaki itu kesulitan bernapas saking ketatnya (bukan sulit bernapas secara harfiah—oh ayolah! Kau pasti mengerti). Dan ketika jadwalnya kosong, Jongin tidak melakukan apapun selain menggelepar bak tak bernyawa di atas kasur.

Krystal mengerti. Ia tahu bagaimana lelahnya mengambil penerbangan nyaris empat kali dalam seminggu, kemudian harus rehearsal. Ia tahu Jongin juga punya serangkaian jadwal tertutup seperti pemotretan, syuting, dan—entahlah, terlalu banyak untuk dijabarkan.

Paling tidak, summary mengencani Jongin seperti ini;

  1. Tidak ada kencan di akhir pekan, apalagi di hari kerja (tapi bagi seseorang dengan pekerjaan seperti mereka, semua hari itu sama; hari kerja).
  2. Tidak ada kecupan-kecupan mesra di malam hari.
  3. Tidak ada pesan ‘selamat siang’, ‘semoga harimu menyenangkan’, ‘tetap sehat’, ‘selamat malam’, apalagi ‘selamat pagi’ (Jongin bukan morning person! Ugh) yang dikirimkan secara rutin; sekali-kali saja, kadang tidak ada sama sekali.
  4. Kalaupun mereka chatting, Jongin lamaaaaaaa sekali membalasnya—Krystal sampai lumutan menunggunya. Karena Jongin mematikan notifikasi karena group chat EXO seperti tidak ada matinya untuk membicarakan hal-hal tidak penting; spam. (Dan Krystal pernah ngambek dua minggu penuh pada Jongin karena selalu lama membalas pesan serta kelewat jarang menelepon untuk melepas rindu. Kemudian mereka menetapkan peraturan untuk Jongin yang mengharuskan lelaki itu mengecek KakaoTalk atau LINE-nya paling tidak enam jam sekali.)
  5. Isi nomor 1, 2, 3, dan 4 diulang sampai gumoh.

Lantas bagaimana mereka berhubungan?

Hanya ada telepon, telepon, telepon, dan telepon.

Jongin akan menelepon saat di bandara, di sela-sela latihan, di akhir rehearsal, sebelum tidur, dan saat Jongin ingat kalau dia punya pacar.

Tidak. Itu tidak sweet. Karena obrolan mereka di telepon kurang lebih seperti ini;

“Halo?”

Ya, halo, Krystal. Bagaimana kabarmu?

“Aku baik-baik saja.”

Oh syukurlah.

“Ya… aku harap kau tidak lupa minum vitamin—“

Krystal, maaf aku dipanggil Junmyeon Hyung. Sampai jumpa.

Atau;

Halo, Krystal?

“Halo, Jongin!”

Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa menelepon larut?

“Aku baru selesai jadwal. Dan aku me—“

Lebih baik kau tidur. Jangan lupa gosok gigi dan minum susu. Kuharap kau mimpi indah. Ingat. Jangan sampai jatuh sakit.”

“Tentu, Jongin. Aku akan melakukannya nanti setelah—“

Tidak bisa. Harus sekarang. Aku masih ada jadwal. Maaf Krystal, aku tutup.

Malah pernah seperti ini;

“Halo?”

Halo, Krystal.”

“Mmm …” (Krystal menunggu Jongin membuka topik, hening panjang sekali)

“Bye, Krystal.”

(Telepon ditutup)

Asdfghjkl?!

(Untuk percakapan pertama, Krystal masih bisa mengerti. Ia tidak ada hak untuk marah. Jongin sibuk, ia tahu. Tapi percakapan kedua? Krystal membanting ponselnya ke lantai sampai harus membeli ponsel baru. Sebenarnya Krystal tidak marah, hanya rasanya asdfghjkl sekali—tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata)

Benar. Menyebalkan.

Dan … membosankan.

(Tapi Krystal tetap saja tidak bisa tidak rindu pada Jongin. Itu menyebalkan)

Karena hubungan mereka begitu-begitu saja. Tidak ada peningkatan (jelas sekali. Tidak banyak percakapan, mana ada peningkatan?).

Hubungan mereka flat, lebih flat dari iPad baru Amber. Membuat Krystal bertanya-tanya. Masihkah Jongin merasakan letupan-letupan itu? Sudah hilangkah perasaan itu? Atau justru sebenarnya perasaan itu tidak pernah datang? Ah. Entahlah.

Di antara semua kebimbangan itu, Krystal merasa sebal karena menemukan Jongin tetap keren seperti biasa. Salahkan penampilan Jongin di SMTOWN Tokyo kemarin, kata ‘putus’ yang sudah ada di ujung lidah jadi tertelan kembali.

Karena … Jongin itu keren. Krystal suka lelaki keren, maka dari itu ia mengencani Jongin; definisi keren yang mencakup seluruh tipe idealnya.

Pastinya semua orang setuju kalau Krystal mengatakan bahwa Jongin sangat keren saat di panggung. Meskipun memakai kostum aneh yang terkadang bling-bling sampai membuat mata sakit, Krystal tetap menganggapnya keren. Apalagi tariannya, benar-benar hebat! Krystal menyukai bagaimana kaki Jongin terlihat feminin saat berputar ala ballerina.

Dan sekarang suara Jongin juga mulai bagus saat bernyanyi. Krystal betah sekali mendengar suara Jongin di lagu First Love-nya EXO. Manis-manis seperti gula; Krystal mau jadi semutnya.

Di setiap photoshoot, Jongin tidak pernah terlihat tidak keren (meskipun terkadang Krystal melirik Sehun yang pesonanya tidak bisa dihindari, Jongin tetap nomor satu). Mau di iklan, di depan layar TV, dilihat secara langsung, atau yang lain pun sama saja; Jongin keren!

Apalagi ya kekerenan Jongin? Akan terlalu banyak kalau Krystal jabarkan. Yang jelas, Krystal suka Jongin karena lelaki itu keren—ya, itu sisi spesialnya Kim Jongin di mata Krystal.

Hanya saja seluruh sisi keren Jongin akan runtuh setiap kali Krystal ingat Jongin itu pacarnya yang tidak peka, tidak perhatian, dan—mungkin—tidak mencintai Krystal.

Krystal mulai memikirkan tentang hal ini sepulang dari Tokyo. Di dalam kamarnya yang hangat, Krystal duduk di lantai sementara kepalanya bersandar pada kasur dan mata terpejam.

Jongin dan Krystal memang jarang-jarang bertemu.

Mereka hanya akan mengosongkan jadwal—atau memaksa bertemu—di hari-hari perayaan mereka (seperti saat hari jadi mereka yang ke-100 hari). Alasan tidak boleh terlihat mencolok tentu yang paling utama. Sejauh pengamatan Krystal pada skandal Baekhyun, Krystal tahu ia harus ekstra hati-hati untuk bertemu dengan Jongin dan sebisa mungkin meminimalisir interaksi langsung di depan publik.

Kalau beruntung, mereka bisa terlibat di satu lokasi syuting atau pemotretan yang sama. Seperti saat pemotretan untuk album Pink Tape dulu, dan baru-baru ini syuting untuk iklan es krim Baskin & Robbins (singkatnya B&R). Tentu saja mereka akan bertemu di konser SMTOWN, sudah tidak diragukan lagi.

Di luar jadwal pekerjaan serta hari perayaan, Jongin akan lebih sering menghubungi lewat ponsel. Mereka terkadang bertemu di gedung agensi (dan sering sekali menyelinap ke rooftop untuk mengobrol berdua. Tentu ekstra hati-hati. Karena tidak semua staff dapat dipercaya).

Atau Jongin pergi ke asrama grupnya. Dan mereka akan mengobrol sampai larut malam lewat interkom. Benar-benar lewat interkom. Victoria tidak mengijinkan Jongin masuk (entah apa alasannya, padahal Luna dan Amber sudah heboh sekali setiap Jongin muncul di layar interkom).

Tapi itu sangaaaaaaaat jarang terjadi.

Sekali lagi, kesibukan membuat jarak di antara mereka semakin jauh.

Lantas, apa perasaan itu juga semakin menjauh? Bagi Krystal tidak, entah apa yang dirasakan Jongin.

Mungkin semua ini sudah tidak perlu diperjuangkan lagi. Tidak ada perkembangan yang terjadi. Bahkan seharusnya SMTOWN Tokyo kemarin jadi kesempatan untuk membuat momen bagus mereka, tapi mereka malah memilih untuk tidak melakukan interaksi apa-apa.

Jadi, bukankah sebaiknya dihentikan saja?

.

Beep. Beep. Beep. Beep beep boop.

Krystal baru menyalakan ponselnya dan wajah Jongin langsung memenuhi layar; Jongin menelepon. Saat tanda hijau digeser dari kiri ke kanan, Krystal hanya berharap kalau Jongin berbicara banyak malam ini. Atau kata ‘putus’ benar-benar terlontar darinya.

“Halo?”

Hai, Krystal. Selamat malam.

Krystal menjauhkan ponsel dari telinganya untuk sesaat. Pukul 11:48. “Mmmm … sudah tengah malam.”

Jongin tertawa kecil di sana. “Ya. Dan kau belum tidur.

“Begitulah …” Krystal menutup matanya. Memilin ujung kaos dan bersiap-siap kalau Jongin akan memutuskan sambungan, ia benar-benar akan memutuskan Jongin saat ini juga.

Lebih baik kau tidur. Tidak baik terjaga semalaman—“

“Ya …”

Tidak, Jongin. Tidak. Jangan katakan.

Akan kututup teleponnya agar kau benar-benar tidur.

“Mmmm …”

Tidak. Jangan ditutup. Jongin, please.

Selamat malam, Krystal. Mimpi indah.

Tapi sambungan telepon benar-benar diputus.

Krystal tidak tahu kenapa rasanya kesal sekali mendengar nada sambung sepersekian detik setelah Jongin memutuskan sambungan telepon. Ia ingin Jongin segera mengangkat telepon. Tapi Jongin membuatnya menunggu sampai nada tunggu ketiga, baru ada suara Jongin menyahut.

Krystal? Ada apa?

“Aku—“

Sebentar,” Jongin seperti menjauhkan teleponnya dari mulut agar Krystal tidak mendengar. Hanya saja itu tidak berguna kalau Jongin berteriak yang kedengarannya seperti ‘iya, Minseok Hyung! Aku akan menyelesaikan episode delapan malam ini. Iya aku akan cepat tidur! Ini Krystal sedang menelepon. Jadi tinggalkan aku, oke?

Kening Krystal mengernyit. Mendadak rasa kesal itu sirna. “Apa yang sedang kau lakukan?”

Tidak ada jawaban. Samar-samar masih terdengar perdebatan Jongin dengan Xiumin. Semacam Xiumin menyuruh Jongin untuk segera tidur karena jam enam pagi EXO harus sudah bangun untuk melakukan ini-itu.

“Jongin?” maka Krystal memanggilnya sedikit lebih keras.

Iya! Setelah Krystal selesai bicara aku akan tidur, Hyung! Demi Tuhan.” Sepertinya Jongin telah menyelesaikan debat dengan Xiumin, tapi lupa untuk menjauhkan ponselnya lagi sehingga Krystal bisa mendengar suara Jongin dengan jelas sekarang.

Krystal? Kau masih di sana?

Krystal sedikit terkejut. “Ah ya…,” jeda sesaat, kemudian melanjutkan, “apa yang sedang kau lakukan?”

Oh. Aku sedang menonton drama. Kenapa?

“Selarut ini?”

Hahaha … aku baru sempat melakukannya sekarang, Krys. Mau bagaimana lagi.

“Lebih baik kau tidur,” saran Krystal. Jongin selalu mengatakan padanya untuk tidur lebih awal agar tidak terlalu lelah, tapi Jongin sendiri lebih memilih untuk nonton drama dibanding tidur.

Ini sudah menit-menit terakhir … tanggung.

Jawaban Jongin membuat Krystal menghela napas. “Memangnya drama apa sih yang sedang kau tonton? Sampai rela mengorbankan waktu tidurmu hanya untuk menonton hal tidak berguna semacam itu.”

“My Lovely Girl.”

Ish,” Krystal mendengus. “Sana tidur! Drama seperti itu malah kau tonton—“

Aku bilang judulnya My Lovely Girl. Atau She’s so Lovable?”

“A-apa?!” pekik Krystal tidak percaya. Itu kan dramanya yang sudah lama tayang … kenapa Jongin baru menontonnya sekarang?

Aku menontonnya di internet. Wow. Kau terlihat bagus di acting. Kupikir Kyungsoo Hyung perlu melihatmu!”

Tidak. Krystal tidak ingin dengar pujian Jongin. Ketar-ketir dirinya memikirkan adegan-adegan mesra di dalam drama itu. Dan … adegan ciuman itu—

“Jongin?”

Mmm?

“Episode berapa yang sedang kau tonton?”

Uhdelapan. Ada apa?”

Krystal memaksakan diri menggali memori tentang drama tersebut. Berusaha sebisa mungkin mengingat apakah ada adegan ciuman di sana atau tidak. Seingat Krystal sih ada. Tapi di bagian akhir, dan sekarang ini Krystal hanya berharap agar Jongin memutuskan untuk tidur sebelum—

Whoa … kisseu!”

terlambat.

Oh tidak.

“Jongin—dengar itu hanya drama—“

Tentu saja aku tahu.

Krystal menepuk keningnya. “Aku tidak melibatkan perasaan apapun saat melakukannya. Dan NG-nya lumayan sih tapi—“

Hei, hei. Tidak apa-apa. Itu hanya drama,” tawa Jongin menyembur. “Aku tidak cemburu.

Krystal menegang. Bukankah lelaki mana pun tidak suka perempuannya dicium lelaki lain?

“Ke-kenapa?” tanyanya, bergetar, khawatir.

Kenapa, ya?” Jongin tertawa sebentar. Suara krasak-krusuk menyusul, kemudian Jongin melanjutkan, “aku tidak cemburu. Cemburu kan ketika kau menginginkan sesuatu yang bukan milikmu. Dan kau ini milikku,” jeda sesaat. Selama jeda itu Krystal sebisa mungkin tidak menarik ingusnya yang mulai turun karena terharu.

Jadi tidak ada alasan bagus buatku cemburu, kan? Lagipula itu hanya pekerjaan, aku mengerti.”

Setelah itu hening. Krystal masih berusaha untuk menahan tangisan haru. Oh ia senang sekali semua pikiran negatifnya tentang Jongin ternyata hanya omong kosong. Sementara Jongin entah sedang apa. Krystal tidak repot-repot memikirkannya karena ia sedang senang.

Krystal?” Jongin memanggil, tapi Krystal abaikan. “Apa kau tidur?

“Whoaaaaaa! Jongin!” dan tangis Krystal pecah saat itu juga. Ia meraung seperti anak bayi, tapi bukan raungan tersiksa. Biarpun begitu, tetap saja Jongin khawatir.

Ada apa?

Krystal tidak menjawab. Tetap sibuk menarik ingus sambil sebisa mungkin menghapus air mata di wajahnya.

Krystal? Hei! Ada apa?” Jongin terdengar semakin panik. “Jawab aku, Krystal. Apa kau terluka? Apa yang terjadi di—

“Kata-katamu … keren sekali! Aku … aku … aku—terharu mendengarnya! Whoaaaaaaa!”

Hening. Tidak benar-benar hening karena suara tarikan ingus di sela-sela isak tangisnya terdengar sampai telinga Jongin. Kemudian suara tawa Jongin menggema sampai enam puluh detik kemudian.

“Ta-tadinya aku ingin minta putus darimu. Tapi kau mengatakan kata-kata keren seperti tadi … aku benar-benar terharu,” aku Krystal, “maafkan aku telah berpikiran negatif padamu.”

Dari ujung sana, Krystal bisa merasakan senyum Jongin yang merangkak naik. “Tidak ada yang perlu dimaafkan,” jeda sebentar (Krystal merasakan jantungnya berdegup kencang menunggu kalimat selanjutnya), “kalau kau berpikir aku tidak cemburu karena aku tidak mencintaimu, tidak seperti itu, Krystal. Masih banyak cara lain untuk menunjukan bahwa aku cinta padamu.

Hening. Krystal menyerapi setiap kalimat yang terlontar dari Jongin. Kemudian senyum mengembang di wajahnya.

“Mari berjuang lebih keras lagi untuk hubungan ini, Jongin! Jangan menyerah!” bibir Krystal bergetar, dan kepalan tangannya yang naik terlihat sangat lucu.

Sementara Jongin masih tertawa renyah. “Tentu. Mari berjuang!

Krystal menggigit bibirnya. Ia harus meneriakan ini sekali lagi atau dirinya akan gila. Sekarang atau tidak sama sekali—

“Jongin! Kau keren sekali!”

Dan di ujung sana, Jongin hanya tertawa.

.

Yeah. Pada akhirnya, Jongin memang akan selalu keren di mata Krystal, bukan?

~.~

Krystal?

“Mmmm?”

Mereka masih melanjutkan pembicaraan. Setelah semua adegan dramatis tentang Jongin yang keren di atas, Krystal menolak untuk segera tidur. Ia masih ingin menelepon Jongin. Maka Jongin menghela napas pasrah dan menurut.

Tentang ciuman itu—

“Ciuman apa?”

Yang di drama.

“Oh, kenapa?”

Aku jadi ingat kejadian saat kita syuting untuk B&R. Hehehe …

Krystal melotot. Memori saat mereka berdua ada di dalam satu ruangan kecil yang tertutup berkelebatan di dalam kepalanya. Wajah Krystal jadi panas bukan main.

Waktu itu panas sekali ya …”

“…”

Dan kau kusuapi es krim lewat bi—

“Jongin! Jangan teruskan—“

Aku tidak keberatan untuk melakukannya lagi—

“Siapkan peti matimu segera, Kim Jongin!”

~.~

.

.

a/n:

Fluff!!!!!!! Fluff as fuck.

Ini awalnya garing banget ya bikin bosen X’D

Sebenernya ini tuh asalnya drabble doang, ficlet pun gak sampe 1000 words. Eh taunya pas ngerevisi di beberapa bagian, paragrafnya malah beranak pinak lalu tau-tau word count-nya udah >2000 words X) Asik sih nulisnya, heuheu jadi senang sampai akhir.

Nulis ini juga buat menghibur diri karena gak ada momen Kaistal di SMTOWN Tokyo. Walau masih kzl.

Anyway, kutipan tentang cemburu itu diambil dari Hipwee. Thanks! ❤

Errr—mind to review?

Makasih juga udah mau baca!

-twelve

 

Advertisements

5 thoughts on “Late Night Talk”

  1. Suka deh! FF ini benar-benar santai tapi terasa profesional. Serius. Kata-katamu itu bikin reader nyaman terus scroll tanpa skip (kaya daku)

    Sering-sering aja bikin begini. panjangnya ficlet jadi engga berasa ^^

    mampir dong ke blog ku (nunjuk ke bawah)
    https://rimaystn.wordpress.com/

    1. Nyesek sebelah mananya thania… 😅
      Enggak sih sebenernya aku aja itu ngarang X’) ((SLAPPED))
      Anyway makasih udah mau baca ya!! Sedang meluncur buat baca Love & Age-mu X)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s