4:44

444

by twelve

~.~

It’s 4:44 in the morning

.

Ketika angka tiga pada jam di meja nakas berganti menjadi angka empat, Zitao membuka matanya. Gelap sekali—Zitao berharap ia buta, tapi sayangnya kegelapan itu terjadi karena ia tidak menyalakan lampu.

Seberkas cahaya yang mengintip dari celah gorden menandakan bahwa hari telah berganti. Membuat Zitao meringis geli—merasa bodoh. Lagipula, apa pedulinya? Hari berganti pun tidak terasa berganti karena apa yang ada di dalam pikirannya tidak pernah berganti.

It’s 4:44 in the morning

Saat ini, ia bagai disodori buah simalakama; maju kena, mundur kena—serba salah.

Sempat ia berpikir kalau mungkin mundur adalah pilihan yang terbaik. Tapi sayangnya, tidak ada alasan bagus baginya untuk mundur. Mau maju pun ia telah terlanjur lelah. Percayalah, walau hanya seinchi ia menggerakan kaki, seluruh persendiannya mengeluh kelelahan, saraf motorik mengirimkan sinyal tidak berdaya pada otaknya; berujung menjadi seonggok daging tak berdaya di sudut kamarnya di Qingdao.

Di akhir ia diam di tengah-tengah—tidak maju, tidak juga mundur; benar-benar diam. Dan—yang sama sekali tidak membuatnya terkejut—Zitao tetap mendapat hujatan dari berbagai pihak.

Dalam kepalanya, ia berpikir kalau diam saja adalah langkah yang bijaksana.

Waktu akan memulihkan keadaan, tentu. Tapi sayangnya waktu tidak dapat menghapus memori semudah itu. Di beberapa kesempatan orang-orang pasti akan mengungkit tentang dirinya yang pergi, tidak mengklarifikasi apa-apa padahal sempat berkoar-koar.

Ia pun sudah mencoba mengendalikan diri sebisa mungkin, memasang topeng kemunafikan di wajahnya, tapi yang terjadi malah kefrustasian menjebol otak.

Jadi sebenarnya aku ini harus bagaimana?

Suatu hari ia bertanya pada cermin—pada dirinya sendiri. Satu tawa sinis pun menggema di dalam kamar mandi untuk menjawabnya yang mana sangat tidak membantu.

Dan kemudian, ayahnya masuk, mengatakan bahwa ia harus berhenti. Membuat Zitao berpikir ulang tentang segalanya. Tapi sebanyak apapun Zitao berpikir, keputusan akhirnya tetap sama; ia ingin tinggal, sementara ayahnya ingin ia pergi.

Jadi aku ini harus pilih yang mana?

Ia memutuskan untuk mengikuti nalurinya saja; melangkah terseok-seok dalam kegelapan, matanya nyalang mencari sesuatu di balik lemari penyimpanan kamar mandi.

Damn. Dimana silet baru itu?”

Dan memang, kekacauan telah merusak isi kepalanya.

.

It’s 4:44 in the morning, and yet I’m still awake full of bad thoughts.”

–kkaebshit on instagram

.

.

~.~

Note :

Sebenernya ini draft lama yang udah mengendap di lappy. Aku nulis ini pas berita Zitao masih anget-angetnya ehehe. Baru berani posting soalnya baru ada mood buat ngedit ini :”)

Terima kasih buat kkaebshit untuk prompts-nya!! Dan untuk yang udah mau baca juga makasih ya!

Sampai jumpa di fiksi yang lain!

– twelve, 20150624/6:22 –

Advertisements