Perks of Dating Me

IMG_20150621_113336

Perks of Dating Me

by twelve

~.~

Untuk kamu, yang selalu aku tunggu,

.

Halo!

Apa kau merindukanku?—oh sialan, kenapa terdengar murahan sekali?

Mari kita ulang.

Halo!

Apa kabarmu? Baik-baik saja, kan? Kuharap begitu. Asal kau tahu, namamu tidak pernah absen didengar Tuhan dalam setiap doaku. Tenang saja, aku tidak mendoakanmu agar cepat mati meskipun aku senang sekali menyumpahimu seperti itu; aku mendoakan kesehatan, kebahagiaan, serta hal-hal baik lain untukmu. Itu semua tulus, kok. Jadi kau tidak perlu repot-repot berpikir bagaimana caramu membalas semua itu.

Di sini, aku sehat-sehat saja, omong-omong. Meskipun kau tidak bertanya tentang keadaanku, kupikir aku perlu menuliskannya supaya kau berhenti memikirkanku barang sejenak saja.

Aku bukannya kegeeran, tapi memang benar kan kalau aku tidak luput dari pikiranmu? Huh! Ayolah! Mengaku saja. Lebih dari satu tahun aku mengenalmu membuatku seperti telah mengenal semua kebiasaanmu; pun kau juga sama denganku—telah tahu kebiasaanku, bahkan sebelum aku mengungkapkannya padamu.

Tentu saja. Kau itu stalker ulung, tak heran kau tahu semua itu. Bahkan skill stalking-ku masih kalah jauh denganmu—aku sebal mengakuinya.

Kau pastinya tahu aku jarang keluar rumah. Jadi, kalau kau butuh seseorang untuk dikunjungi, kau bisa datang ke rumahku. Aku akan dengan suka cita membuka pintu, mempersilakan kau masuk setelah melepas sepatumu. Lalu kau akan menontonku yang sedang sibuk menulis cerita, atau frustasi sendiri berhadapan dengan photoshop, atau menonton anime, mungkin. Kau pasti tidak keberatan. Karena yang kau butuhkan adalah seseorang bernapas dalam ruangan yang sama denganmu.

Kalau selama menontonku kau kelaparan, aku bisa memasak mie instan untukmu. Aku juga bisa menyajikan menu dadar telor spesial. Kau mau menu lain? Tenang saja. Dadar indomie adalah signature dish-ku yang patut kau coba! Rasanya sudah tidak diragukan lagi, kok. Itu tidak akan membuatmu bolak-balik ke toilet, apalagi sampai masuk UGD hanya gara-gara makan masakanku.

Satu hal yang patut kau ingat, aku memang tidak pandai memasak, tapi aku bersedia belajar masak untuk memuaskan perutmu. Kalau aku sedang tidak dikejar deadline sih, lebih tepatnya. Eh, asal kau punya resepnya, aku pasti bisa kok. Satu yang aku tidak bisa di bidang memasak adalah menakar garam, gula, penyedap, dan teman-temannya dengan tepat. Jadi jangan heran kalau rasanya kadang terlalu asin, kadang hambar, kadang lebih condong ke manis daripada sedap.

Hmmm … aku akan membiarkanmu meneguk sebotol cola milikku di kulkas. Hanya saja, kalau kau kembung jangan salahkan aku ya! Hehehe.

Aku juga tidak keberatan kalau kau mau menghabiskan es krim di freezer. Asal kau tidak menyentuh kesenangan—uh, maksudku my holy dark chocolate di sudut rahasia kulkas, aku tidak akan menendangmu keluar rumahku. Dan kau tidak perlu bawa bingkisan atau apapun lah itu saat bertandang ke rumahku. Aku hanya memerlukan kehadiranmu, tapi mungkin ayah dan ibuku memerlukan sekotak martabak telor super yummy dari tanganmu. Ohoho.

Aku memang suka hadiah, tapi kau tidak perlu repot-repot memberikan hadiah, oke? Mungkin sesekali, kau boleh memberikannya untukku—aku akan menerimanya dengan antusiasme tinggi. Hanya jangan terlalu sering, karena aku akan cepat bosan. Kusarankan, belilah hadiah untuk dirimu sendiri atau untuk adik kesayanganmu serta keluargamu, dan bagi kebahagiaannya denganku.

Lalu apalagi ya? Karena kau adalah seorang pekerja keras, tidak suka diganggu tapi suka menggangu, sering sibuk, dan sangat menyebalkan kalau sudah melimpahkan semua kejutekanmu padaku, aku akan mencoba mengerti dengan semua itu. Buktinya, satu tahun lebih kita bersama, aku tidak pernah komplen tentang hal itu (errr—kecuali tentang jutek-menjuteki itu sih).

Aku percaya padamu. Makanya aku tidak menuntut ucapan ‘selamat pagi’mu mampir ke ponselku setiap aku mengecek ponsel sehabis bangun tidur. Ya, walaupun terkadang aku mengharapkannya sih…. Tapi aku tetap percaya, namaku akan muncul di kepalamu, entah itu saat kau baru membuka mata, atau di tengah-tengah aktivitasmu yang sibuknya gila-gilaan.

Aku juga tidak menuntut ucapan ‘selamat siang’mu. Karena aku tahu di jam-jam begitu, kau sedang makan siang, dan kau tidak akan memainkan ponsel saat di meja makan.

Perlu kau catat bahwa aku menuntut ucapan ‘selamat malam’mu, atau sapaan kurang ajar seperti; ‘woi alay’ atau ‘heh cabe’ yang biasa kau lontarkan di window chat kita. Yang penting kau menghubungiku satu kali dalam sehari, meskipun kita tidak chatting, aku akan bersyukur pada Tuhan. Karena setidaknya, itu adalah tanda bahwa kau masih hidup, baik-baik saja, dan kau masih ingat kalau kau punya aku yang selalu menunggumu.

Rasa-rasanya aku ngenes sekali karena terus-terusan menunggumu. Tapi, kalau kata judul drama korea yang aku tonton sih; it’s okay it’s love.

Oh iya. Aku juga tidak akan berselingkuh. Karena di dalam kepalaku, hanya kau yang mondar-mandir tak tentu arah. Jadi tak ada waktu untuk memikirkan laki-laki lain. Oh sialan. Jangan bawa-bawa oppa koriya yang memang selalu menyita perhatianku lebih banyak darimu. Mereka itu fana, oke? Khayalan babu abis, tempat ngebaper buat ide fiksi. Sementara kau nyata—jelas saja aku lebih memilihmu.

Jadi, jangan sekali-kali kau memikirkan perempuan lain, oke? Apalagi sampai kau mengalihkan pandanganmu dariku hanya untuk meliriknya. Huh!

Terkadang aku bisa melucu walau selera humorku receh. Setidaknya, kalau kau tertawa pada leluconku, berarti kau sama recehnya denganku. Itu bagus, kita bisa jadi duo receh bersama-sama.

Tidak ingin mendengar lelucon garingku? Maka aku akan memainkan nada tinggi biola di telingamu agar kau sakit kepala. Ah tidak. Tentu saja itu hanya bercanda! Mereka bilang, musik bisa membantu pikiran serta otot manusia menjadi lebih relaks. Aku akan menciptakan harmoni indah dari setiap senar biola yang kugesek agar membuatmu nyaman. Atau mungkin kita bisa mendengarkan musik bersama. Satu earphone berdua, ide bagus, bukan?

Ah, rupanya kebersamaan kita ini indah juga, ya.

Satu lagi. Aku berbohong tentang jawaban dari pertanyaanmu; apa tiga hal yang dapat membahagiakanmu? Errr—iya sih, uang itu bikin bahagia, dan tentu saja internet tanpa batas benar-benar menyenangkan. Tapi, tidak selamanya dua hal itu bisa bikin aku senyum sampai ke telinga.

Jawaban yang sebenarnya adalah; kau, kau yang tidak jutek, dan kau yang membawa cokelat atau kue-kue untukku. Aku malu mengatakannya waktu itu. Rasanya menggombal bukan hal yang pas di lidahku. Tapi kemudian, aku menyesal sendiri karena telah memberikan jawaban palsu.

Kau adalah salah satu sumber kebahagiaanku. Buktinya, dengan menemukan namamu di layar ponselku saja aku sudah girang bukan kepalang.

Eh? Lihat! Ternyata aku se-cheesy ini—memalukan.

Aku harap kau masih ingat kalau kau pernah bilang, ‘you are really my style’ padaku, karena aku masih mengingat dengan jelas bagaimana rasanya jutaan kupu-kupu menggelitik perutku; aku terenyuh, meleleh seperti mozzarella di atas api.

Jadi, apalagi yang kau tunggu?

Tertanda,

Aku.

.

.

.

Ceritanya Tidak ditulis untuk seseorang, iseng aja sih. Tapi tidak dapat dipungkiri ada perasaan sulit diartikan yang terselip dalam tulisan ini.

Iya ini alay banget. Jadi, silakan tutup tab ini dan segera lupakan tentang tulisan ini. HAHAHA.

-twelve-

Advertisements