Umbrella

umbrella-by-sinhyo

 

Umbrella

by twelve

Oh Sehun ; You

<2700 words (Ficlet) ; AU, school-life, romance, fluff(?), comedy

Oh Tuhan. Apa ia tidak bisa memberikannya dengan sedikit romantis sopan?

Omong-omong, poster by leesinhyo @ home design. Terima kasih! Unyu sekali :3

~.~

Rese!

Semua hal, semua orang, semua-semuanya rese!

Aku tidak tahu—dan aku tidak peduli—apakah orang-orang sedang merayakan hari rese sedunia dengan menjadi sangat menyebalkan satu sama lain atau apa, yang jelas, hari ini rese sekali!

Semua ini berasal dari Ibu. Aku tidak mengerti kenapa Ibu mendadak jadi sangat sensitif hari ini. Seingatku Ibu sedang tidak dalam masa datang bulan—yang membuatnya menjadi berkali-kali lipat menyebalkan seperti seekor singa masuk angin, dan juga Ibu sedang tidak punya masalah dengan siapapun. Tapi nyatanya Ibu malah membuat satu masalah denganku. Menyebalkan.

Pagi tadi, saat aku baru membuka mata dengan ogah-ogahan untuk mematikan alarm sialan, Ibu menggedor-gedor pintu kamarku, tak sabaran. Tentu saja itu mendatangkan pusing yang berdenyut di kepalaku. Sambil menyumpah, aku memilih untuk mengabaikan Ibu dan malah kembali memejamkan mata. Sampai akhirnya gedoran itu sanggup membuat gantungan bajuku—yang tergantung di belakang pintu—jatuh, aku berteriak keras. Emosi penuh kukerahkan saat membuka pintu.

“Apa-apaan, sih, Bu?!”

Dan kemudian rahangku jatuh.

Demi Tuhan. Ini pukul enam, masih pagi, dan Ibu sudah menangis-nangis depan pintuku. Awalnya aku akan menjadi lembut, dan menanyakan baik-baik pada Ibu tentang apa yang terjadi, apa yang ia butuhkan. Tapi kemudian—

“Anak macam apa kamu ini?! Anak perempuan seharusnya tidak cuek seperti ini! Kau ini punya perasaan tidak sih!?!? Ibu sudah gedor-gedor dari tadi dan kau baru membukanya?! Harusnya kau lebih perasa!! Tidak seperti ada maunya. Kalau disuruh apa-apa, langsung dikerjakan. Giliran tidak ada maunya, kau cuek setengah mati pada Ibu. Apa perlu kau ikut bimbingan rohani di gereja?”

Kalimat Ibu sangat panjang seperti kereta api yang membawaku ke Busan tempo hari. Dan rupanya itu menyulut amarah yang tadinya sudah mereda. Keningku jadi mengerut dalam, wajahku mendadak kusut.

Kenapa sih Ibu marah-marah? Kenapa tidak lansung to the point saja? Tinggal bilang butuh apa kok dibikin repot, aku mendumal—dalam hati, tentu saja.

Sudah jadi kebiasaanku untuk tidak membalas kata-kata Ibu, karena itu akan memperparah suasana. Aku terus membisu sambil memperbaiki letak gantungan baju. Tapi Ibu tidak mau menyerah.

“Kau ini dengar kata-kata Ibu tidak sih?!”

Suara serak Ibu membuatku meliriknya tajam. Ibu ini suka berlebihan. Aku hanya terlambat membukakan pintu, dan Ibu memarahiku sambil menangis dramatis, seperti aku telah mencakar-cakar wajahnya garang. Dalam hati aku memanjatkan doa pada Tuhan agar kelak aku tidak seperti Ibuku di hari yang akan datang.

“Diamlah. Aku sedang memperbaiki ini,” kataku tegas saat Ibu mau menerobos masuk. Sebenarnya gantungan sudah terpasang, itu hanya alasan agar ocehan Ibu selesai.

Setelah itu, Ibu melemparkan satu tatapan bengis. Air matanya masih berlelehan. Aku mendadak jadi merasa bersalah. Tapi, baru juga mau meminta maaf, Ibu sudah pergi menuruni tangga dengan langkah dihentak-hentak. Benar-benar seperti anak kecil. Ternyata benar apa kata orang. Kau akan kembali menyebalkan seperti anak-anak setelah jadi tua.

Bzzzzzzt bzzzzt zbzzzzzt sbzzzzztsd….

Aku berbalik, dan masuk ke kamar. Alarm ponselku berbunyi lagi. Aku mengatur alarm agar berbunyi setiap setengah jam sekali, omong-omong. Dan kalau begitu, berarti sekarang ini pukul—

“APA?!”

Angka ‘6:30’ di layar ponselku, mendatangkan pukulan lain di kepala yang membuatku lebih pusing daripada tadi. Ibu telah membuang tiga puluh menit berhargaku dengan menangis dan memarahiku. Sialan.

“Ayah!! Mobilnya sudah panas beluuum?” aku teriak-teriak sambil menuruni anak tangga. Setelah bersiap-siap dengan secepat kilat—yang akhirnya tetap memakan waktu sekitar empat puluh tujuh menit—aku keluar dari kamar. Rambut tidak benar-benar disisir, dan kalau kau memerhatikan sampai ke kakiku, kaos kaki yang kugunakan beda warna; kanan warna kuning, kiri warna toska. Ini sudah hampir terlambat, jadi tidak ada waktu untuk memerhatikan kaos kaki yang nantinya hanya akan bersembunyi di balik sepatu.

Eh, omong-omong, kenapa ya Ayah tidak menjawab?

“Ayah??” panggilku lagi. Aku mengedarkan pandangan. Setelah menuruni anak tangga, pastinya aku sampai di ruang tengah, dan di sebelah barat biasanya akan ada Ayah yang sedang membaca sesuatu di tablet-nya sambil makan bacon, duduk di atas kursi makan. Tapi, aku tidak menemukan sosok Ayah di kursi itu. Hanya ada Ibu yang sedang memakan biskuit. Mata dan hidungnya merah, ia terlihat sangat sembab. Pasti Ibu baru selesai menangis. Duh alay sekali. Kok sampai segitunya, sih?

Aku memutuskan untuk tidak mengacuhkan Ibu. Cepat-cepat aku ke pintu masuk, lalu memakai sepatu. Tidak sudi aku sarapan satu meja dengan Ibu. Nanti kena semprot lagi. Selesai memakai sepatu, aku berdiri dan baru menyadari kalau di samping kiri telepon rumah tidak ada kunci mobil Ayah. Sialan. Pasti Ayah sudah berangkat duluan!

Tatapan beringas aku lancarkan pada Ibu. Ia pura-pura sibuk dengan ponsel dan mengunyah biskuit. Di balik wajahnya yang merah dan sembab itu aku yakin ia mencemoohku dalam hati. Dasar wanita licik.

Ibu adalah tipe orang yang tidak pernah mau kalah. Jadi wajar saja kalau ia sampai menghasut Ayah untuk berangkat duluan ke kantor agar tidak mengantarku sampai sekolah. Ibu selalu ingin memenangkan medan perang denganku, makanya ia akan menghasut siapapun untuk ada di pihaknya. Dalam konteks ini, Ayah yang meninggalkanku bisa dibilang kalau Ayah ada di pihak Ibu.

Sialan!

Hal yang menyebalkan terjadi lagi.

Tuhan sepertinya sedang ada di pihak Ibu. Habisnya Tuhan tega sekali sih mentakdirkanku berdesakan di dalam bis.

Aku nyaris saja jadi gepeng kalau tidak ada anak laki-laki baik hati yang mau membiarkanku menduduki tempat duduknya. Tentu saja aku mengucapkan terima kasih padanya, tapi tidak dijawab olehnya. Mungkin bising di bis membuat telinganya tuli.

Aku ingin melihat wajahnya, tapi ia malah berdiri membelakangiku. Aku pikir ia seumuran denganku. Rambutnya hitam, memakai seragam musim semi yang terlihat sangat pas di tubuhnya. Oh! Ia memakai gelang cartier­—atau apapun itu namanya—di tangan kirinya. Imut sekali. Aku jadi makin penasaran. Apalagi punggungnya terlihat seperti mengundangku untuk memeluknya dari belakang—duh.

Omong-omong, aku tidak percaya ada manusia yang masih sangat baik sepertinya di dunia ini. Ia rela bertukar posisi denganku; berdiri dan berdesak-desakan dengan orang lain, sementara aku duduk tenang. Aku kasian padanya. Tubuhnya yang kurus jadi terhimpit tubuh orang-orang lain. Ini semua karena bis yang ramai sekali. Padahal seingatku, bis tidak akan seramai ini di pagi hari. Atau mungkin orang-orang sialan di bis ini ada di pihak Ibu? Ya Tuhan. Semua saja memihak ke Ibu! (Kecuali anak laki-laki itu, sih).

Ini benar-benar menyebalkan. Setelah turun dari bis dengan susah payah, aku berlari menuju gerbang sekolah. Di saat berlari kelewat cepat seperti ini, aku sampai-sampai merasa kalau menarik napas satu kali pun sangat mustahil.

Padahal aku sudah berlari sampai megap-megap tadi, tapi rupanya itu masih kurang cepat. Gerbang sekolah ditutup tepat dua menit sebelum pencapaianku di gerbang. Sepertinya aku harus menulis surat pembaca untuk kepala sekolah agar memindahkan halte yang jaraknya lumayan jauh dari gerbang sekolah.

Tentunya aku mendapat hukuman karena terlambat. Bersama anak-anak lain—yang sama sialnya denganku—aku berlari di lapangan yang besarnya tidak tanggung-tanggung. Untung saja aku hanya terlambat dua menit, jadi hanya mendapat hukuman lari dua putaran. Aturan di sekolahku memang konyol; jumlah putaran sesuai dengan berapa menit kau terlambat. Tapi di sisi lain itu menguntungkan juga, omong-omong.

“Kau terlambat?” adalah kalimat yang menyapaku begitu aku sampai di kelas. Honey, si perempuan dengan rambut pirang itu yang mengatakannya. Ia teman terdekatku, omong-omong. Kami duduk bersebelahan.

Aku hanya mengangguk lesu. Menggantungkan tas di meja, aku duduk di atas kursi dengan lemas lalu mendumal, “Ibu marah-marah, dan Ayah terkena hasutan Ibu untuk meninggalkanku.”

Honey menatapku simpatik. Wajahnya yang cantik terlihat sangat bersinar hari ini. Padahal tiga hari lalu ia terlihat sangat kacau gara-gara terus menangisi mantan pacar brengseknya. “Aku turut berduka cita.” Ia menepuki kepalaku, kebiasaan yang membuatku manyun. Honey selalu bertindak sebagai seorang ibu yang lembut. Aku harap, kelak jika aku terlahir kembali aku ingin menjadi anaknya Honey, pasti rasanya menyenangkan dilimpahi kelembutan seperti itu.

Tiga menit berlalu, dan aku baru sadar kalau tidak ada guru di depan kelas. Biasanya setelah bel dibunyikan, dan gerbang ditutup, guru akan langsung masuk ke kelas. Pantas saja aku bisa dengan leluasa masuk ke kelas tanpa mendapatkan hukuman lain dari guru.

“Hey, Sena!” seseorang memanggil. Aku langsung memandang orang yang memanggilku. Itu Raein, temanku yang lain.

“Kenapa?”

“Boleh tidak aku meminjam PR fisika? Ada beberapa nomor yang aku belum jawab,” katanya. Pipinya yang sedikit tembam itu merona, merupakan salah satu sisi lucu Raein. Ia punya kulit putih yang merona alami, aku jadi iri.

Mengangkat alis, aku menjawab, “ya tentu. Sebentar.” Lalu aku mengaduk-aduk isi tas. Mencari kata ‘fisika’ di setiap sampul buku tulis. Tapi aku tidak menemukannya. Aku yakin tadi malam aku sempat memasukannya. Iya, tapi kemudian Ibu marah-marah dan aku melampiaskannya dengan melempar semua barang di dalam tasku—

Tunggu. Apa!?

“Sena?”

Aku mendadak keringat dingin. Dengan horror aku menatap Raein. “Aku—aku meninggalkannya….”

“Saya berjanji tidak akan meninggalkan PR fisika di rumah lagi. Saya berjanji—“

Hari ini benar-benar hari rese sedunia.

Setelah kena semprot Ibu, nyaris mati sesak napas di bis yang penuh, kaki yang kebas gara-gara berlari secepat cahaya, aku mendapatkan kesialan lain; pulang satu jam lebih lama dari biasanya. Iya, itu hukuman dari Guru Kang, si guru fisika itu gara-gara aku meninggalkan PR fisika di rumah. Lebih parahnya lagi, hanya aku satu-satunya anak di kelas yang tidak membawa PR fisika, sehingga Guru Kang menjadikanku babu seharian. Sudah disuruh ambil tugas anak-anak kelas satu, disuruh buat kopi, disuruh bersih-bersih ruang guru, disuruh menulis surat pernyataan pula. Ini keterlaluan.

Dan sialnya (lagi), baru saja aku akan melangkah keluar dari gedung utama sekolah, hujan turun demikian deras. Oh Tuhan. Apalagi ini? Benar-benar rese. Kenapa harus hujan di saat aku tidak bawa payung? Sepertinya aku perlu sungkem pada Ibu agar segala kesialan ini tidak berlanjut.

Pada akhirnya aku duduk di tangga yang kering. Kalau saja aku pulang satu jam sebelumnya, pasti tidak akan sial seperti ini, dumalku. Lagi-lagi aku menyalahkan Ibu atas kesialan beruntun hari ini. Iya ini memang salah Ibu! Lagipula kenapa Ibu lebay sekali sih hari ini?

Aku menendang udara dengan gemas. Hari sudah semakin gelap, dan aku lihat ada beberapa anak yang nekat hujan-hujanan. Sebenarnya aku bisa saja ikut nekat seperti mereka, tapi sampai di rumah pasti Ibu akan mengomel lagi. Sialnya, di saat yang seperti ini aku tidak bisa meminta Ayah menjemput karena aku tahu di jam-jam segini Ayah sedang sibuk. Dan aku ini anak tunggal, jadi tidak bisa minta jemput kakak atau adik.

Huh, sial sekali sih.

“Yah, hujan.”

Aku refleks menoleh. Ada seorang anak laki-laki dengan tinggi menjulang berdiri di dekatku. Aku tidak pernah melihatnya—mungkin ia anak baru, atau ia anak kelas satu. Aku yang merupakan anak kelas dua jarang ke main ke lantai anak kelas satu, jadi hanya beberapa anak kelas satu saja yang aku kenal. Itu pun karena mereka ada di satu komplek perumahan denganku atau dulunya adalah adik kelasku di SMP.

Aku memutuskan untuk menghiraukannya saja. Dan lagi, belum tentu juga kalau ia mengajakku bicara hanya dengan mengatakan ‘yah hujan’, omong-omong.

Tapi, tetap ada rasa penasaran yang mengganggu. Aku bertanya-tanya kenapa ia baru mau pulang. Apa ia sama sialnya denganku? Kena hukuman dari guru sialan sampai-sampai harus pulang satu jam kemudian, atau ia ketiduran di kelas dan tak ada yang membangunkannya? Itu memang bukan urusanku, tapi bisa saja, kan, aku berbagi kesialanku padanya.

Bukan-bukan. Aku tidak mengharapkan adegan romantis seperti di dalam drama—ya seperti dua orang terjebak hujan, kemudian mengobrol slash melakukan pendekatan selama menunggu hujan reda. Tidak kok. Aku masih sadar diri, aku hidup di dunia nyata, bukan drama. Jadi, aku memutuskan untuk menganggapnya tidak ada—tapi tetap saja! Ugh, rasanya sulit sekali mengabaikan anak laki-laki setampan dirinya.

Sedikit-sedikit, aku meliriknya. Aku benci bagaimana seragam musim semi yang sangat pas di tubuhnya itu membuat ia terlihat seperti flower boy oppa yang biasa aku lihat di televisi. Meskipun ada jaket yang menutupi seragamnya, aku tahu ia tidak memakai name tag, mungkin ia belum mendapatkannya, atau ia menyimpannya di dalam tas. Uh, aku menyesali fakta kalau aku sangat ingin tahu namanya.

Rambutnya hitam (kelihatannya lembut sekali. Aku jadi ingin mengacaknya manja—eh), dan jari-jarinya sedang mengetikkan sesuatu di ponselnya. Mungkin ia sedang menghubungi seseorang untuk lekas menjemputnya. Oh, great. Setelah ia dijemput, aku pastinya hanya sendiri.

Omong-omong, aku seperti pernah melihatnya, tapi di mana ya?

“Halo? Ya, hujannya deras sekali. Aku masih di sekolah. Tidak-tidak. Ada orang lain di sekolah, jangan khawatirkan aku—“

Saat aku mengorek-orek memoriku, aku menangkap suaranya yang berat tapi tetap nadanya sedikit tinggi dan lucu. Aku kembali meliriknya. Ia sedang menelepon. Dan aku baru sadar kalau ada gelang cartier di tangan kirinya. Hey, apa ia anak laki-laki di bis tadi pagi?

“—iya-iya. Aku pakai jaket, tidak perlu jemput. Demi Tuhan.”

Ya ampun. Lihatlah caranya mengacak rambut! Wajahnya terlihat frustasi, tapi ajaibnya terlihat sangat lucu di mataku.

Tunggu dulu. Kalau aku tidak salah dengar, ia tidak minta dijemput, ya? Baguslah. Aku bisa lebih lama bersamanya—eh.

“Aku benar-benar pakai jaket. Jangan khawatir. Aku tutup,” setelah mengatakannya dengan wajah datar, ia menutup sambungan telepon. Kemudian ia mengaduk-aduk tasnya dan keluarlah payung. Uh, sepertinya keinginanku untuk bersamanya lebih lama lagi tidak akan terwujud.

Dengan wajah sedih yang berusaha sekeras mungkin kututupi, aku menunduk. Lantas memeluk lututku karena udara terasa menelanjangiku. Oh, ayolah. Tidak ada yang lebih buruk lagi dari ini apa? Sudah hujan, hari makin gelap, tidak bawa payung, dan tidak pakai jas sekolah. Yeah, sangat lengkap—sialan.

Aku benar-benar harus sungkem pada Ibu, pikirku.

Tuk!

Aku terperanjat, tiba-tiba ada sebatang payung mendarat di pangkuanku. Oh Tuhan, siapa yang berani-beraninya melempar payung padaku?! Parah. Kalau mau lempar, lihat-lihat dulu dong! Kena kepalaku, kan. Aku gegar otak pun kau belum tentu mau ganti rugi (errr—sebenarnya ketiban payung tidak akan sampai segitunya, sih).

“Pakailah.”

Aku baru saja mau marah-marah, tapi suara berat dengan nada sedikit tinggi yang lucu menyapa gendang telingaku. Tentu saja wajah kesal sudah terganti dengan wajah kaget kuadrat. Aku baru sadar kalau yang ada di sini hanya aku dan anak laki-laki itu. Jadi, pastinya yang melempar payung itu si anak laki-laki! Oh Tuhan. Apa ia tidak bisa memberikannya dengan sedikit romantis sopan?

“Terima kasih,” kataku pada akhirnya—sedikit merona, setelah hampir satu menit menatap tidak percaya padanya. Anak laki-laki itu tersenyum samar, nyaris tidak tampak. Sekarang kepalanya dilindungi tudung jaket. Aku memerhatikannya tanpa berkedip saat ia merapatkan jaket yang ia pakai. Benar-benar mempesona.

Tak kusangka, detik selanjutnya ia berlari menerobos hujan. Tidak berkata apapun sebagai salam perpisahan. Aku pikir ia akan membiarkanku berlindung di bawah payung ini bersamanya—rupanya ekspektasiku terlalu tinggi.

Aku cepat-cepat berdiri. Menatapnya dengan khawatir sambil berteriak, “hei!! Kau gila!? Bagaimana denganmu?!”

Bagaimana kalau besok ia tidak ke sekolah? Kena demam hanya gara-gara meminjamkan payung pada perempuan yang bahkan tidak dikenalnya? Ia benar-benar gila.

“Jaketku tahan air. Pakai saja!! Cepat pulang!” anak laki-laki itu balik berteriak. Kalimatnya nyaris terbang diculik angin. Untunglah pendengaranku masih berfungsi dengan baik untuk mendengar dalam gemuruh hujan begini.

Aku sempat melihat jempolnya yang diangkat ke udara sebelum ia berbelok ke luar gerbang sekolah. Melihat punggungnya, aku jadi diingatkan tentang anak laki-laki di bis itu. Dan kalau tidak salah, ada gelang cartier juga di tangannya. Apa itu dirinya?

Tak dapat kuhindari senyum lebar yang merangkak naik ke wajahku saat ini. Benar-benar. Meskipun caranya memberikan payung sangat tidak sopan, ia tetap anak laki-laki yang baik, gentle.

Membuka payung pinjaman anak laki-laki itu, aku menangkap satu nama yang ditempel oleh plester di gagang payung. Dan kemudian, nama itu terus menggelayut di dalam pikiranku.

Oh Sehun.

Thursday, May 28, 2015

Dear diary,

Aku tidak jadi mendeklarasikan hari ini sebagai hari rese sedunia.

Ternyata rencana Tuhan benar-benar tidak tertebak, ya? Setelah seharian tertimpa sial, akhirnya aku mendapatkan yang manis juga di akhir. Sampai di rumah, hubunganku dengan Ibu sedikit membaik walau kami masih bersikap dingin satu sama lain. Dan anak laki-laki bernama Oh Sehun itu benar-benar malaikat. Menyelamatkanku dua kali, dan bahkan mengorbankan dirinya untuk menolongku. Ia anak yang baik, tapi masih harus ikut kelas tata karma.

Aku harap bisa bertemu lagi dengannya untuk mengucapkan terima kasih. Semoga kebaikannya dibalas Tuhan, amen.

Sena

~.~

Author’s note :

Halo! Halo!

Cara memberikan payung itu diambil dari anime Gekkan Shoujo Nozaki-kun episode 09. Ehehe. Caranya doang kok, alurnya beda.

Aku menulis ini dengan perasaan menggebu-gebu setelah dimarahi Mama, jadilah aku pakai POV 1 biar lebih berasa marah-marahnya. Ehehe. Bahasanya juga campur aduk antara yang baku sama yang enggak. Heuheu. Maafkan kalo bikin gak nyaman.

Omong-omong, terima kasih yang udah mau baca! Sampai jumpa lain kali.

-Twelve

Advertisements

2 thoughts on “Umbrella”

  1. Huhu.. Thehun lomantisnya #ikutancadel #emangakunyajugacadel
    dan inspirasinya dari anime yg sarap itu toh. aku pernah nonton sampai episode 2 aja –” jadi pengen nonton lg deh karena ceritanya kocak ><

    1. Wakakak. Sehun di sini nyebelin sih kalo menurut aku X)
      Iya! Anime itu sarap parah. Ayo nonton lagi! Aku masih suka ketawa ngakak kalo re-run anime itu. Apalagi di episode 11. Kocak banget gakuat XD
      Anyway, makasih udah mau baca ya!! ❤❤❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s