A Higher Place

a-higher-placeSimilar story : Perfume

~.~

Semua orang terlihat senang. Lampu remang-remang di dalam restoran menambah kenyamanaan bagi setiap manusia untuk berpesta. Ada satu meja besar yang panjang di tengah ruangan. Berbagai macam makanan tersedia di sana, membuat meja itu jadi tempat favorit. Selain di dalam restoran, taman kecil dan bagian outdoor restoran juga dihias sedemikian rupa. Orang-orang berkelompok di setiap sudut, menikmati pesta dengan suka cita.

Ini adalah pesta perayaan atas suksesnya band Die Jungs mendapatkan label untuk merilis album mereka yang pertama. Minggu depan adalah waktu rekaman, kemudian bulan depan adalah waktu pemasaran. Maka dari itu, sekarang, sebelum jadwal jadi menggila, pesta digelar.

“Hai, semuanya.” tiba-tiba Chanyeol berdiri di atas panggung kecil, ada mikrofon di tangannya. Semua orang memusatkan perhatian pada sang gitaris, musik pun dipelankan. Ini di tengah-tengah pesta, dan Chanyeol pikir ini adalah saat yang tepat. Kemudian ia menarik Hana untuk ikut berdiri di atas panggung, “Perkenalkan ini Song Hana. Ia yang memotivasiku untuk menulis lagu. Ia juga menulis lagu, dan menyanyikan versi demo beberapa laguku. Ia inspirasiku. Ia … ” Chanyeol memandang Hana sejenak, matanya memancarkan sensasi romantis yang nyata. “Hana adalah segalanya untukku.”

Dan suasana pesta kembali riuh. Siulan terdengar dari mana-mana, begitu juga dengan tepuk tangan. Beberapa orang bahkan menggoda Chanyeol secara terang-terangan. Sementara Hana hanya tertawa. Wajahnya merah padam. Malu, tapi juga senang.

“Oh, Chanyeol, kau cheesy,” ujar Hana, memukul perut Chanyeol dengan pelan sambil turun dari panggung. Itu karena ia tak tega Chanyeol mengerang kesakitan dengan tinjunya.

“Kau tak suka?”

“Tidak—maksudku, ya. Tapi tidak di depan umum. Aku merasa terbakar—“

“Hei, Chanyeol!”

Hana dan Chanyeol refleks mengalihkan pandangan. Ada seorang pria gembul dan seorang gadis di sampingnya, membelah keramaian untuk menghampiri Chanyeol. Pria gembul itu tos dengan Chanyeol, mengucapkan salam akrab seperti teman lama, lalu tertawa sejenak. Mereka mengabaikan Hana dan si gadis sesaat.

“Oh, hei! Siapa gadis manis ini?” setelah mengobrol dengan asik bersama Chanyeol, akhirnya pria gembul itu menyadari kehadiran Hana. Mau tak mau, Hana tersenyum manis.

“Alfred, ini Song Hana, pacarku,” ucap Chanyeol sambil melingkarkan tangannya di pundak Hana. Tersenyum begitu lebar. Hana merasa sangat spesial diperlakukan seperti itu. “Hana, ini teman lamaku, Alfred. Ia akan membantuku selama perilisan album.”

Alfred tersenyum tak kalah lebarnya dari Chanyeol. Hana mengulurkan tangan, kemudian dijabat oleh Alfred dengan semangat. “Kau menang banyak, Bung! Dia cantik sekali.”

Chanyeol semakin mengeratkan lingkaran tangannya, sebagai kode kalau Hana ini miliknya. “Yeah. Terima kasih,” katanya penuh dengan sarkasme. “Jadi, siapa gadis Asia yang kau bawa ini? Tidak biasanya kau bersama seorang gadis.”

Hana mendongak (ia memang harus mendongak untuk menatap Chanyeol tepat di mata). Entah bagaimana, ada kecemasan yang menghampiri, tapi ia berusaha menepisnya.

“Ya Tuhan, aku hampir lupa! Ini Sandara, asistenku yang cantik. Sandara, ini Chanyeol, gitaris Die Jungs yang baru saja kita kontrak.”

Chanyeol melepaskan tangannya dari pundak Hana. Kemudian mengulurkan tangan itu untuk menjabat Sandara. Hana menemukan senyum yang tak biasa dari wajah Chanyeol saat Sandara juga tersenyum begitu cantik untuk pacarnya.

“Park Chanyeol.”

“Sandara.”

Hana merasa cemas di dalam hatinya makin menjadi.

~.~

A Higher Place

by twelve

Park Chanyeol; Song Hana (OC)

>3500 words (Oneshot) ; AU, romance, slight!hurt

Warning : Merupakan remake dari salah satu adegan di film “Begin Again”.

~.~

[Tuesday, January 6th 2015]

“Cek-cek.” (Kamera menyala. Chanyeol mengacak-acak rambutnya sambil menaik-turunkan alis. Tersenyum dengan begitu lebar.)

 “Halo, Hana, coba angkat kepalamu.” (Chanyeol menyorot seorang gadis di atas sofa, sedang bermain dengan gitarnya. Tampak jelas rambutnya dicepol asal, wajahnya sedikit kusam. Gadis itu belum mandi.)

“Tidak mau.” (Hana makin menunduk, melepas cepol rambutnya agar menutupi wajah.)

(Suara Chanyeol tertawa.) “Ayolah, Hana.”

“Tidak mau!!”

(Chanyeol membawa kameranya mendekat. Ia lalu menyorot Hana dari bawah.)

“Park Chanyeol!” (Hana terkejut. Reflek menendang tulang kering Chanyeol, sehingga Chanyeol menjauh.)

“Aduh.” (Chanyeol mengaduh, tapi masih tetap tertawa.) “Kita kan mau membuat video demo untuk lagu kita.” (Kembali yang disorot adalah wajah Chanyeol, ada bagian kecil yang menampilkan wajah Hana.)

(Hana cemberut.) “Tapi jangan sorot akunya!”

“Iya-iya. Say hello aja buruan.” (Kamera berguncang-guncang saat Chanyeol berjalan menuju meja. Kemudian guncangannya berhenti. Chanyeol menaruh kamera di atas meja nakas.)

Take satu gagal!! Matiin kameranya, matiin.” (Hana merajuk, Chanyeol tersenyum saja sambil menggumamkan kata, ‘iya-iya’.)

First take,” (Chanyeol memenuhi kamera dengan wajah sedih dibuat-buat). “—failed.” (Lalu membuat tanda silang dengan tangannya. Dan kamera pun menghitam.)

[Friday, January 9th 2015]

(Kamera menyorot wilayah remang-remang. Tidak fokus, bergoyang karena Hana sedang berjalan. Kemudian cahaya matahari yang menyilaukan muncul berbarengan dengan suara gorden dibuka.)

(Wajah Hana muncul di kamera.) “Ini take lima!” (Suaranya tidak lebih dari sekedar bisikan, namun tetap bersemangat.)

“Chanyeol, cepat bangun sayang.” (Kamera bergoyang-goyang lagi, sementara tangan Hana merayap ke balik selimut.) “Kita akan take demo lagu baru.”

(Chanyeol muncul dari balik selimut. Acak-acakan, pucat, dan sembab—khas baru bangun tidur. Matanya masih belum terbuka.) “Demi Tuhan, Hana. Aku baru pulang dari Jepang dini hari tadi. Biarkan aku tidur.” (Dan Chanyeol menghilang lagi di balik selimut.)

(Hana menyorot wajahnya sendiri, dibuat sesedih mungkin, namun tetap terlihat lucu.) “Fifth take, failed!”

[Monday, May 12th 2015]

“Halo!!!!”

“Halooooooooooo!!”

(Kemudian suara tawa membahana. Chanyeol dan Hana melambai-lambai narsis ke kamera. Chanyeol yang memegang kamera, mengalihkan sorotan ke arah lautan biru. Mereka sedang berlayar.)

“Apa kau berminat membuat demo di sini, Hana?”

 (Rambut Hana melambai-lambai tertiup angin.) “Kita sedang dalam perjalanan ke Jeju. Tidak ada menyanyi!” (Tangan Hana membuat tanda silang yang lucu.)

(Kemudian kamera kembali menyorot wajah Chanyeol. Rambutnya berantakan oleh angin.) “Oke. Seventh take, failed!”

[Thursday, May 15th 2015]

“Halo, semuanya. Ini take sebelas.” (Hana muncul di kamera, melambai-lambai. Ia terlihat cantik dan segar. Pasti sudah mandi.)

(Mengalihkan fokus kamera ke belakangnya, ada Chanyeol.) “Chanyeol, say hi!!” (Chanyeol tersenyum lebar sekali, tak lupa melambaikan tangannya meskipun sedang memegang gitar.)

“Ini adalah demo untuk lagu terbaru Die Jungs!!” (Suara Chanyeol ditenggelamkan oleh antusiasme tepuk tangan Hana.)

“Kau siap, Chanyeol?”

(Hana memperbaiki posisi kamera. Ia lalu sedikit mundur agar Chanyeol lebih terlihat di kamera.) “Ini hanya latihan, omong-omong.”

“Camkan, ini hanya latihan. Jangan terlalu berharap.” (Chanyeol menyahut. Hana tertawa sebentar, lalu mengacungkan tanda oke.)

(Intro dimainkan. Hana mengambil kertas kecil di atas meja. Penuh coretan.)

“Pelankan,” (Suara gitar dipetik sedikit lebih pelan. Hana menatap Chanyeol dan mengangguk, tanda sudah pas. Kemudian suara Hana bernyanyi terdengar.)

Please, don’t see, just a girl caught up in dreams and fantasies,

Please, see me reaching out for someone I can’t see.” (Hana menatap Chanyeol sebentar, saling melempar senyum.)

Take my hand let’s see where we wake up tomorrow.” (Chanyeol tetap menatap Hana. Dari matanya terlihat kalau dia menikmati ini.)

Best laid plans, sometimes are just a one night stand,

I’d be damned, Cupid’s demanding back his arrow,

So let’s get drunk on our tears.

(Hana menurunkan kertasnya, memandang Chanyeol tepat di mata. Tersenyum. Gitar naik tempo.)

And God, tell us the reason.

Youth is wasted on the young,

It’s hunting season, and the lambs are on the run,

Searching for meaning.

(Senyum Chanyeol merambat naik, Hana juga begitu.)

But we all lost stars, trying to light up the dark.”

(Hana mengangkat tangannya, membentuk simbol berhenti, maka suara gitar Chanyeol makin memelan, lalu berhenti.)

“Selesai.” (Suara Hana pelan sekali, nyaris tak terdengar. Kemudian suara Chanyeol tertawa diiringi tepuk tangan terdengar. Hana ikut tertawa.)

“Jadi, bagaimana menurutmu?”

“Bagus, sangat bagus. Aku nyaris lupa berhenti kalau kau tidak memberikan tanda itu.” (Chanyeol meletakan gitarnya di samping.)

“Oh ayolah.” (Hana tertawa, menutup wajahnya malu-malu.) “Menurutku kau harus menaikan sedikit saja tempo di satu baris sebelum reff.”

(Chanyeol manggut-manggut.) “Oke. Jadi apa judulnya?”

(Hana berpikir sebentar.) “Lost Stars?”

“Ide bagus. Die Jungs dan fans akan sangat menyukai ini!” (Chanyeol mendekati Hana. Kemudian, duduk di samping gadis itu dan melingkarkan tangan di pinggangnya.)

(Hana tertawa lagi, Chanyeol ikut tertawa.) “Aku akan sangat tersanjung bila bisa menyanyikan ini bersama Baekhyun, vokalismu.”

“Oh, Hana. Dan aku akan dibutakan rasa cemburu.” (Kepala Chanyeol melesak ke leher Hana. Mengendus-endusnya sambil menggeleng-geleng, Hana kegelian.)

“Kami hanya bernyanyi bersama—“ (Hana mendesah tertahan. Lalu menutup wajah.) “Ugh, Chanyeol matikan kameranya!!” (Suaranya terdengar histeris. Chanyeol tertawa.)

Eleventh, the last take, completed!

(Kemudian, kamera dimatikan.)

Hana menutup laptopnya, lalu mengusap wajah dengan gusar. Oh sialan. Menonton video-videonya bersama Chanyeol justru membuat rindunya membara, bukan mengobatinya. Ia menghembuskan napas, lalu menaruh laptop di atas meja.

Sekarang tanggal tiga puluh Mei, berarti ia sudah ditinggal Chanyeol selama dua minggu untuk ke Jepang. Pacarnya itu sedang menghadiri undangan untuk band-nya di sebuah acara amal. Nama band Chanyeol, Die Jungs sekarang sudah mulai dikenal. Mereka semakin melebarkan sayapnya di industry musik, yang mana semakin membuat sempit waktu Hana dan Chanyeol. Biasanya di jam-jam begini mereka akan berdiskusi tentang lagu, bernyanyi, atau hanya diam dan mendengarkan detak jantung masing-masing. Chanyeol lebih sering menghabiskan waktunya dengan band sekarang. Hana mencoba mengerti, lagipula itu resiko punya pacar sibuk.

Tidak ingin berlarut-larut dengan rasa rindunya, Hana turun dari sofa. Ia berusaha sekeras mungkin untuk tidak mengecek ponselnya, karena selama apapun ia menatap ponselnya, kalimat terakhir di window chat-nya dengan Chanyeol tidak akan berubah;

‘I miss you too! Honey, sorry, aku dipanggil Alfred, besok kita lanjutkan obrolan.’ (received at 2:29 PM, May 28th)

Besok katanya? Bahkan ini sudah tanggal tiga puluh, gerutu Hana.

Hana memutuskan untuk menyeduh kopi. Jadi, ia menyalakan mesin pembuat kopi. Hana merutuk dalam hati karena mesin itu tidak menimbulkan suara apapun. Padahal ia berharap ada suara-suara aneh yang dapat menyingkirkan suara Chanyeol dalam kepalanya.

Oh, rindunya terasa besar sekali untuk Chanyeol.

Cklek.

Hana berbalik, kaget setengah mati. Ia tidak ingat akan menerima tamu, dan Baekhyun—yang biasa keluar masuk rumahnya dengan seenak jidat—sedang bersama Chanyeol. Ia adalah bagian dari band, vokalisnya, jadi mustahil Baekhyun tiba-tiba muncul. Maka dari itu, Hana mengambil spatula, untuk jaga-jaga.

Tap. Tap. Tap. Tap.

Detakan jantung Hana makin menjadi. Rasa-rasanya dada Hana akan meledak.

“Hana?”

Hana mengerjap. Detakan menggila itu perlahan-lahan kembali normal secara ajaib. Dan kemudian, seluruh alat indranya dengan cepat memproses suara itu. Chanyeol, itu suara Chanyeol. Kaki-kaki Hana berjalan cepat, keluar dari dapur tetap bersama spatulanya. Kini gemuruh cemas berganti jadi gemuruh antusias.

“Chanyeol!”

Melihat Chanyeol dengan mata lelah dan gitar di punggungnya, membuat Hana seperti hidup kembali. Hana pikir ia harus membagi kebahaigannya dengan memeluk Chanyeol.

“Wow, wow. Slow down, Hana.” Chanyeol membawanya berputar sebanyak tiga kali. Mereka tertawa hingga membelah malam.

“Aku pikir kau baru akan pulang besok,” Hana menyalakan mesin kopi lagi. Sekarang Hana tidak keberatan dengan hening yang ditimbulkan mesin itu karena Chanyeol ada bersamanya. Setelah membagi ciuman manis di depan pintu, Chanyeol menanggalkan jaket dan menyimpan gitar di atas sofa. Lalu mereka sekarang ada di sini, di dapur.

“Kejutan,” Chanyeol mengatakannya dengan nada datar dan dua tangan terbuka di atas meja, tanpa senyuman, tapi Hana tertawa.

“Yeah. Aku pikir kau bandit atau semacamnya.”

“Jadi itu sebabnya,” Chanyeol manggut-manggut. Hana mengerti maksud Chanyeol. Yeah, spatula itu.

Kemudian Hana mengeluarkan kari instan dari kulkas. Meskipun ini sudah sangat terlambat untuk makan malam, Hana pikir tidak ada salahnya untuk makan. Persetan dengan berat badannya! Hana ingin makan malam dengan Chanyeol.

Tak disangka-sangka, Chanyeol bangkit dari duduknya dan ikut membantu Hana memasak kari. Anak laki-laki itu tidak bicara, Hana jadi cemas. Biasanya ketika pulang dari tempat jauh tanpa Hana, Chanyeol akan manja berlebihan padanya selama beberapa hari. Tapi sekarang, Chanyeol justru diam, bahkan tidak cerita apapun tentang perjalanannya. Kira-kira ada apa, ya

Hana berdeham canggung. “Jadi, bagaimana perjalananmu?”

Diam sebentar, lalu Chanyeol menjawab, “baik, sangat baik,” Chanyeol seperti terburu-buru setelah mengatakan itu. Ia bahkan tidak melirik Hana saat mengatakannya. Hana bersedekap, menyenderkan pinggangnya pada konter.

Chanyeol tampak menyadari atmosfer yang tiba-tiba berubah, tapi ia berusaha tidak memperlihatkan keterkejutannya. “Bagaimana denganmu? Apa yang kau lakukan selama aku pergi?”

“Merindukanmu,” tanpa membuang waktu lebih lama, Hana menjawabnya dengan lugas. Ia mengharapkan tawa merdu mengalir memenuhi pendengarannya, tapi Chanyeol hanya terkekeh kecil lalu mengusak rambutnya, tidak mengatakan apapun.

“Aku menulis lagu baru omong-omong,” kata Chanyeol, mengejutkan Hana. Tapi Hana tidak menanggapinya, lantas Chanyeol melanjutkan, “terinspirasi saat aku sedang di Jepang.”

Kali ini Hana menanggapinya sambil manggut-manggut. “Mau memutarnya di sini?” tanyanya, membuat alis Chanyeol terangkat. Kemudian, anak laki-laki itu mengangguk. Cepat-cepat ia pergi ke ruang tengah, mengambil ponselnya. Setelah mengatur volume ponselnya jadi penuh, Chanyeol memutar musiknya.

“Ini masih versi demo. Baekhyun yang menyanyi.”

“Oh benarkah?” Hana memandang Chanyeol yang sibuk mengambil gelas, menuangkan kopi yang sudah jadi ke gelas-gelas itu. Untuk sejenak, mereka melupakan kari yang mulai mendingin.

   “I don’t know why I don’t see happiness in this town

            Everyone I meet seems so uptight, wearing their frown

            What good is living where dreams come true

            If nobody smiles

            Everyone’s chasing the latest star, the latest style.”

Hana menyeruput kopi dalam bisu. Saat reff lagu mulai mengalun di kepalanya, ia mulai merasakan gemuruh tak nyaman. Sementara Chanyeol berdiri bersebrangan dengannya, menunduk dan memainkan cangkir kopinya.

   “I don’t know if I’m the fool who’s getting this all wrong

            That’s the dream to sing, the perfect girl, the perfect song

            All I know is I can’t keep on wearing this disguise

            When you’re the only one that sees what’s real in my eyes.”

Ini gila. Bibir Hana gemetaran, maka dari itu ia menekannya kuat-kuat, gemuruh itu makin terdengar. Ia nyaris menangis.

   “You take me to another space in time

            You take me to a higher place

            So I’m about to get out of the race

            I don’t mind.”

Hana memalingkan wajah. Kemudian pelan-pelan melepaskan cengkramannya pada cangkir untuk disimpan ke atas meja, berusaha sekeras mungkin untuk tidak mengguyur Chanyeol dengan kopinya.

   “You ought to know that everything’s nothing if I don’t have you.

            You take me to another place—“

PLAK.

Hana menampar Chanyeol. Tentu saja Chanyeol terkejut, Hana juga merasakan hal yang sama. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Rasa-rasanya ia akan meledak kalau tidak meluapkan emosinya.

“Apa-apaan kau ini?”

Chanyeol melangkah marah. Matanya menyala, panas menjalar di pipinya. Dan Hana menutup setengah wajahnya dengan tangan. Hampir merosot ke lantai, air matanya bercucuran. Sementara lagu sudah berhenti. Sekarang Hana mengerti.

“Untuk siapa lagu ini?” Hana nyaris kehilangan napas saat mengatakannya. Dugaan-dugaan tak masuk akal merasuki kepalanya, membuat ia gila.

Desau napas Chanyeol terdengar tak beraturan. Anak laki-laki itu terlihat sama hancurnya dengan Hana. Dengan mata penuh rasa bersalah, matanya bertubrukan dengan milik Hana. “Dara,” jawabnya pelan, tak lebih dari bisikan.

“Dara—Sandara?” Hana mencicit, seperti tercekik. “Sandara, asisten Alfred? Yang kita kenal Februari lalu?”

Chanyeol mengangguk, membuat napas Hana makin pendek. Kepalanya pening sekali. “Apa dia ikut ke Jepang?”

Saat Chanyeol kembali mengangguk, Hana benar-benar merosot ke lantai, meraung seperti anak bayi.

“Itu terjadi begitu saja … aku tidak menyangka akan seperti ini,” Chanyeol membuka suara, Hana masih meraung. Jelas saja Hana meraung kian keras agar tidak mendengar kalimat Chanyeol. “Aku yakin ini akan berlalu.”

Hana semakin sesak, seperti ribuan kerikil menyumbat pernapasannya. Tapi Chanyeol tidak mengerti. Kalau Chanyeol yakin ini akan berlalu, lantas kenapa ia hanya diam di sana—tidak membantu Hana meringankan sakit yang dirasa?

Pening melanda kepala Hana. Ia tidak tahu harus berkata apa. Tapi cukup sadar untuk tidak mengatakan hal bodoh, semacam ‘ya tidak apa-apa’ pada Chanyeol. Itu hanya akan memperburuk perasaannya.

“Beri aku waktu.”

Chanyeol dan Hana sama-sama menahan napas ketika Hana akhirnya memutuskan untuk berdiri. Kaki-kaki kecilnya bergetar, nyaris ambruk lagi. Tapi kali ini, Chanyeol menangkapnya.

Mereka saling bertatapan untuk waktu yang cukup lama. Jarak yang rapat membuat mereka dapat merasakan betapa buruknya perasaan masing-masing. Hanalah orang pertama yang melepaskan lengan Chanyeol di tubuhnya. Ia tidak tahan. Hana merasa nyaris gila menatap wajah Chanyeol yang memprihatinkan. Tapi ia tidak punya pilihan lain.

Hana mengecup singkat pipi Chanyeol, membiarkan lelehan air matanya menyentuh wajah Chanyeol. Kemudian, Hana melenggang meninggalkan Chanyeol.

~.~

“Berhenti.”

Suara dari gitar Chanyeol berhenti. Ia menatap Baekhyun dengan malas. Mereka tadinya sedang berlatih untuk lagu hasil aransemen mereka. Tapi kemudian, Baekhyun menghentikan latihan mereka. Chanyeol yang terbiasa melakukan ini bersama Hana merasa sedikit tak nyaman saat terpaksa harus melakukannya dengan Baekhyun. Chanyeol ogah-ogahan melakukannya, pantas saja Baekhyun menyuruhnya berhenti.

“Sebenarnya ada apa denganmu?” Chanyeol langsung mengangkat wajahnya, menatap Baekhyun dengan tidak mengerti.

“Apanya yang ada apa? Aku baik-baik saja,” ujar Chanyeol, mendapat mata Baekhyun yang memutar malas padanya.

“Suara gitarmu bercerita, Chanyeol.”

Chanyeol memijit keningnya. Baekhyun adalah anggota Die Jungs yang paling dekat dengannya, maka tak heran jika anak anak laki-laki itu bisa membaca perasaannya dengan mudah. Baekhyun tentu saja sudah tahu tentang apa yang terjadi di antara Hana dan Chanyeol, bahkan rekan satu band-nya dan teman-temannya yang lain juga tahu, tapi tidak ada yang bereaksi seperti Baekhyun. Ia langsung dihadiahi satu pukulan di pipi saat tahu kalau Hana pergi dari rumah Chanyeol—Hana dan Chanyeol memang tinggal satu rumah, omong-omong—sehari setelah pertengkaran itu. Baekhyun memarahinya, berteriak dan memaki tanpa peduli telinga Chanyeol panas. Sebagai sahabat yang baik, Baekhyun tahu persis Hana adalah seseorang yang tepat untuk Chanyeol. Tapi dengan bodohnya, si tinggi idiot itu malah membuat Hana pergi.

Suara desau napas Baekhyun terdengar. Anak anak laki-laki itu lalu menatap Chanyeol tepat di mata. “Dengar,” katanya, penuh penekanan dan terdengar berbahaya. “Aku tidak bisa membujuk Hana untukmu, dan aku tidak akan pernah sudi melakukannya,” Chanyeol merasakan hatinya tercetut mendengar Baekhyun berkata seperti itu. Apa seburuk itu kesalahannya di mata Baekhyun?

“Jadi, kalau kau ingin gadis itu kembali, kejar dia sampai dapat. Tapi jangan memaksa,” Baekhyun melanjutkan. Kemudian hening menguasai keadaan. Baekhyun menggunakan kesempatan itu untuk memperbaiki lirik, mencoret beberapa kata dan mencoba nadanya dengan keyboard. Sementara Chanyeol menutup wajahnya. Terlihat begitu gusar.

“Apa menurutmu Hana akan kembali padaku?” entah datang dari mana keberanian untuk mengatakan itu. Chanyeol yakin Baekhyun akan memenggalnya saat ini juga.

“Tanyakan pada cermin,” ucap Baekhyun, menusuk tepat ke ulu hati. Chanyeol memilih untuk bungkam. Baekhyun akan berkata lebih jahat lagi kalau ia membuka mulut.

Hyung?”

Tiba-tiba pintu terbuka. Ada Sehun, teman Chanyeol yang lain. Anak lelaki itu dua tahun lebih muda daripada Chanyeol, tapi tingginya nyaris menyamainya, dan bahkan lebih tinggi dari Baekhyun yang mana seangkatan dengan Chanyeol.

“Ya, Sehun?” itu suara Baekhyun. Maka, pandangan Sehun beralih pada Baekhyun.

“Ada seseorang yang mengantarkan kardus ini. Katanya untuk Chanyeol Hyung,” Sehun mengatakannya sambil melangkah masuk. Seperti yang dikatakannya, ia membawa satu kardus besar di depan dada. Kemudian, kardus itu ditaruh di atas lantai. “Apa kalian sedang sibuk?” Anak anak laki-laki itu menyadari kertas-kertas musik berserakan di ruangan ini, tanda Chanyeol dan Baekhyun sedang mengerjakan musik baru.

“Ya begitulah,” kata Baekhyun sarkastis sambil mengangkat alis. Ia berhenti menulis, mengalihkan pandangannya pada Chanyeol. “Kau tidak berniat untuk membukanya?”

Chanyeol terkejut. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia beringsut turun dan mendekati kardus itu. Baekhyun benar-benar marah, terdengar dari kata-katanya yang tajam dan menusuk. Sehun yang tidak tahu apa-apa diam menonton, lalu menyeletuk,

“Kuharap itu bukan bom.”

Chanyeol tidak merasa ingin tertawa dengan celetukan Sehun. Apalagi setelah tutup kardus terbuka.

“Selamat. Doamu terkabul, Sehun,” di belakang punggung Chanyeol, Baekhyun berkata, dan Sehun hanya tertawa pelan.

Ada banyak sekali barang di dalam kardus itu. Tidak mengejutkan kalau Chanyeol mengenali semua benda di dalamnya. Bahkan, Chanyeol samar-samar dapat melihat kilasan kenangan yang terselip di setiap barangnya.

Itu semua adalah barang-barang Hana, berarti Hana yang mengirimkannya. Chanyeol tidak akan pernah bisa lupa dengan sweater abu yang selalu Hana pakai setiap hari di rumah mereka. Chanyeol masih dapat merasakan lembutnya kulit Hana saat menggenggam dompet kulit mahal yang Chanyeol belikan dari Hongkong. Chanyeol seperti bernostalgia saat tangannya menyentuh semua barang-barang itu. Jumlahnya ada lebih dari sepuluh barang, dan itu semua adalah pemberian Chanyeol untuk Hana. Tapi Hana malah mengembalikannya; artinya, mereka berdua sudah berakhir.

Chanyeol pikir dunianya akan berakhir karena sesak tak tertahankan di dadanya. Ia nyaris tidak bisa bernapas dengan benar. Dan di saat seperti itu, Baekhyun mengangkat sebuah alat perekam dari dalam kardus. Chanyeol tidak pernah memberikan barang semacam itu pada Hana, maka dari itu keningnya mengerut.

“Kurasa kita harus memutarnya,” Sehun mengusulkan. Baekhyun mengangguk setuju. Tanpa menunggu persetujuan Chanyeol, Baekhyun menekan satu tombol. Kemudian, suara piano menyambut telinga mereka.

Chanyeol langsung terperanjat. Hana pasti akan bernyanyi. Hana pasti akan—

We take a chance from time to time

And put our necks out on the line

And you have broken every promise that we made

And I have loved you, anyway.”

Hana benar-benar bernyanyi. Liriknya terdengar sederhana, namun Chanyeol merasakan gejolak emosi di dalam dirinya.

Took a fine time to leave me hangin’ out to dry

Understand how I’m greivin’

So don’t you waste my time

Cause you have taken

All the wind out form my sails

And I have loved you, just the same.”

Chanyeol bergetar. Kepalanya terasa pusing. Lirik lagu Hana yang satu ini benar-benar menusuknya.

We finally find this

Then you’re gone

Been chasin’ rainbows all along

And you have cursed me

When there’s no one left to blame

And I have loved you, just the same.

Suara Hana bergetar, tidak stabil. Chanyeol bisa membayangkan Hana nyaris menangis saat menyanyikannya. Dan mungkin saja di akhir lagu, setelah alat perekam dimatikan, Hana benar-benar menangis, meraung seperti anak bayi—persis seperti yang dilakukannya saat pertengkaran itu.

Chanyeol ingin berhenti mendengar, namun ia ingin melepas rindunya pada suara Hana. Sekalipun lirik-lirik sialan itu menyindirnya, ia akan berlagak seperti sedang mendengar Hana menyanyikan lagu demo yang ditulis untuk main-main.

And you have broken every single fucking rule

And I have loved you, like a fool.”

Kemudian, berhenti. Lagu sudah habis. Chanyeol ingin memutar kembali lagu itu, ingin menafsirkan lagunya dengan sudut pandang yang berbeda. Tapi, Baekhyun lebih dulu mengambil alat perekamnya. Anak lelaki itu menatap Chanyeol yang terlihat sangat hancur, sangat prihatin.

“Kau terlambat, Chanyeol.” adalah tiga kata yang sanggup mematahkan semua harapan Chanyeol.

Chanyeol pun terjatuh. Ia meraung, terlihat begitu hancur. Ia sangat menyesal.

~.~

Author’s Note :

Halo! Entah kenapa akhir-akhir ini lagi suka menulis sesuatu tentang putus kayak gini. Padahal aku baik-baik aja kok di dunia nyata. Setelah dibikin baper terus-terusan, bukannya jadi bikin fluff malah kayak gini.

Oh ya, Song Hana ini hanya OC. Aku memakai Sulli dari f(x) hanya untuk visualisasi aja. Ehehe. Tadinya FF ini mau jadi Chanbaek aja, tapi kemudian aku gak tega bikin Chanbaek berakhir tragis seperti ini. Ya gak stragis Kaistal di FF-ku yang sebelumnya sih…. Ah ya. Maafkan aku ngebuat Sandara jadi thirdwheel :”D Gak bisa move on dari Chandara.

Sekali lagi, seperti yang sudah dituliskan di warning, fiksi ini adalah remake dari salah satu adegan dari film “Begin Again”. Adegan pas Chanyeol Hana membuat demo lagu di take sebelas, dan adegan Chanyeol Hana putus, berasal dari film, sedangkan sisanya adalah imajinasiku. Lagu-lagu yang digunakan juga dari film itu. Lagu yang digunakan antara lain; Lost Stars by Keira Knightley, A Higher Place by Adam Levine, dan Like a Fool by Keira Knightley.

Oh iya. Mungkin fiksi semacam ini akan jadi series, tapi gak janji sih. Setelah Kaistal, Chanyeol-Hana, akan ada pasangan lain lagi! Aku sedang mengerjakan sequel Perfume juga. Semoga bisa rampung deh ya 😀

Terima kasih buat yang udah mau baca, omong-omong. Ini adalah fiksi pertama aku yang tembus 3000 words lebih, dan memakan sekitar 15 halaman untuk oneshot. Semoga gak ngebosenin ya! Sampai jumpa di postingan yang lain ❤ ^^

-Twelve

Advertisements

2 thoughts on “A Higher Place”

  1. Aku suka ff iniiii. Aku suka semua ff kamuuuuu

    Menurutku ini baper maksimal. Kesel Chanyeol di sini. Serius.

    1. Akkkkkkkk- Than!! Makasih ❤❤❤❤❤
      Aku juga kesel sendiri sama karakter Chanyeol di sini 😦 tapi gimana ya orang ganteng mah bebas da ((ya))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s