When I Was, When You Were

when i was, when you wereWhen I was … When You were …

by twelve

Kim Jongin; Krystal Jung

<3000 words (oneshot) romance, angst

(inspired by  Chen and Krystal’s song in SM the Ballad “Breath” album, “When I was … When You Were …”)

~.~

Mereka harus berhenti, meski artinya semakin menyakiti.

~.~

Kehujanan. Baju basah. Rambut lepek. Wajah kusam.

Krystal tidak pernah tahu bahwa kemalasannya untuk membawa payung akan membuatnya bertemu dengan Jongin dalam keadaan menggenaskan seperti ini. Oh, sekalipun itu dalam mimpi, tidak pernah! (Di dalam mimpi, Krystal berpenampilan seperti ratu dan—yeah, tentu saja—Jongin adalah rajanya).

Krystal juga tidak pernah tahu kalau keputusannya untuk makan ramyun di mini market akan membawanya bertemu dengan Jongin.

Well, peluang bertemu Jongin setelah hari di mana mereka saling melempar cacian satu sama lain—yang merupakan hari di mana mereka mengakhiri hubungan mereka juga, adalah hampir tidak ada. Dapat dinotasikan sebagai P(A) = 0, yang mana adalah mustahil artinya. Jadi, wajar saja kalau jantung Krystal nyaris terjun bebas saat melihat penampakan Jongin di mini market sedang jongkok sambil makan ramyun cup.

Krystal yang sudah terlanjur menyeduh ramyun, terpaksa duduk di sebelah Jongin—walaupun tidak bisa dibilang sebelah juga karena Krystal duduk agak jauh dari tempat Jongin jongkok.

Tahu begini, aku tidak akan buru-buru nyeduh ramyun, rutuk Krystal sambil mengaduk-aduk isi cup itu dengan tidak manusiawi. Niat hati tidak akan makan, tapi perut mengkhianati—suaranya keras sekali. Untung saja derasnya hujan menyamarkan, sehingga Jongin tidak mendengar. Setidaknya Krystal terselamatkan dari rasa malu berlebihan.

Lagian sayang juga ramyun-nya, pikirnya pun sambil memasukan suapan kecil ramyun ke mulutnya.

“Sudah lama juga ya …”

Krystal langsung berhenti mengunyah dan refleks memandangi Jongin, “ya?”

Sekarang Jongin memandangi Krystal juga. “Aku berbicara tentang hujan,” katanya, ada senyuman konyol yang terbit saat ia mengatakan kalimat selanjutnya, “sudah lama ya kita tidak menonton hujan bersama begini.”

A-ah …” adalah kalimat—atau mungkin kata?—yang keluar dari mulut Krystal sesaat setelah kata-kata Jongin terproses dengan sempurna oleh kepalanya. Kemudian Krystal berdeham canggung setelah menelan kunyahannya. Ada sesuatu yang mengganggu dari kata-kata Jongin, “tapi, seingatku kita tidak pernah menonton hujan bersama,” katanya.

“Oh, ya?” Jongin mengalihkan pandangan. Tawa bodohnya mengalun beberapa detik kemudian, “berarti ini yang pertama ya untuk kita?”

Krystal lantas mengangguk dan mengatupkan bibirnya, tidak berniat mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas kata-kata Jongin. Dia masih begitu, batinnya.

Sesaat kemudian, hujan adalah satu-satunya pengisi kekosongan di antara mereka. Keduanya, baik Krystal maupun Jongin, merasa nyaman dengan kesunyian seperti ini. Dan sadar atau tidak, situasi seperti ini membawa Krystal ke masa-masa mereka masih bersama dulu.

Krystal ingat.

Dulu kencannya dan Jongin hanya sebatas saling bertemu, kadang minum kopi bersama, atau hanya saling bertatap muka tanpa adanya obrolan. Karena saat satu dari mereka membuka obrolan, akan berakhir menjadi topik debat—yang kadang bisa berakhir jadi pertengkaran hebat.

Krystal sendiri tidak tahu apakah yang seperti itu pantas disebut kencan atau bukan.

Mereka juga ada agenda rutin tiap musim untuk pergi bersama Sulli dan Minho. Kau bisa menyebutnya sebagai double date, tapi sebenarnya tidak seperti itu; kelihatannya saja seperti double date, padahal yang pacaran hanya Sulli dan Minho. Buktinya, ketika Sulli dan Minho berpegangan tangan, saling melemparkan celotehan tak bermutu satu sama lain, atau saling suap-suapan romantis, Krystal dan Jongin nyaris tidak berbicara, apalagi pegangan tangan.

‘Krystal bukan anjing yang harus dituntun ke mana-mana saat jalan-jalan; dia tidak akan tersesat’, adalah jawaban konyol dari Jongin saat Sulli menggoda mereka untuk berpegangan tangan.

Dan—yeah, seperti yang telah diduga—Krystal marah pada Jongin hari itu. Sepulang dari acara kencan, Krystal meluapkan emosinya habis-habisan. Krystal sangat mudah tersinggung, dan tentu saja kata-kata Jongin membuatnya merasa terhina karena dianggap ‘anjing’ oleh Jongin. Padahal kan Jongin tidak bermaksud seperti itu.

Mereka selalu begitu; berbicara sebentar, bercanda sedikit, kemudian bertengkar sampai frustasi.

Baik Krystal maupun Jongin tidak pernah mengerti kenapa mereka bisa bersama begitu lama—delapan bulan itu terasa sangat lama; 3 bulan yang manis dan 5 bulan yang sadis. Tuhan menggariskan mereka bersama, mendesak mereka dalam satu hubungan rumit yang teralu banyak pertengkaran.

Awal hubungan mereka memang manis, semanis madu di atas hotcake buatan Victoria. Namun sayangnya, itu hanya bertahan di tiga bulan pertama hubungan mereka. Waktu terus berjalan. Masing-masing dari mereka secara tak sadar berperilaku posesif berlebihan.

Menjengkelkan. Memuakkan.

Hingga akhirnya mereka berhenti bicara. Bertemu hanya saling menatap mata, tanpa obrolan, ditemani secangkir kopi atau sebuah buku. Karena begitu ada satu kata menyinggung perasaan, habis sudah momen mereka.

Hubungan baru seumur jagung, tapi beban yang diberikan tak tanggung-tanggung.

Kenapa tidak dilepaskan saja?

Mereka terlalu bodoh, naif, dan sensitif. Sama-sama sayang, tapi tidak tahu bagaimana mengekspresikannya. Sama-sama tidak bisa mengendalikan emosi, tergelapkan oleh rasa posesif. Sama-sama tidak tahu bagaimana bertindak, hanya mementingkan ego masing-masing yang membabi buta; ego untuk tetap saling memiliki, meski artinya saling menyakiti.

Kenapa tidak menyerah saja?

Mereka jenuh, tapi bersikukuh bertahan. Seharusnya ada satu yang mengalah, tapi tidak. Maka efeknya sungguh luar biasa. Keduanya merasa seperti masokis; saling menyakiti satu sama lain dengan bertahan.

Padahal tahu sudah tidak ada rasa, tapi tetap memaksa.

Kemudian di satu malam, Krystal menyerah. Ia melemparkan segala emosi yang ada pada Jongin. Emosinya tidak stabil saat itu, meskipun umurnya sudah dua puluh, yang mana membuat Jongin tidak mau kalah; Jongin juga menyerah pada hubungan mereka.

Memangnya kau saja yang tersakiti dalam hubungan ini?!”

Saling meneriaki, memaki, dan sama-sama menyakiti.

Akhirnya, hubungan mereka berakhir dengan tragis, diwarnai tangis dramatis. Tapi secara magis menerbitkan perasaan menyesal.

Kita berdua sama-sama tersakiti, tapi tidak mau memperbaiki.

Krystal tertawa. Tawanya miris. Hubungannya dengan Jongin sekonyol itu.

“Hei, kenapa tertawa?”

Tak menghiraukan pertanyaan Jongin, Krystal masih tetap tertawa. Tawanya malah makin keras saat melihat Jongin berwajah bodoh sedang memandanginya. Ia mengelap ujung matanya. Basah, kenapa basah?

“Hei, hei!” Jongin awalnya kebingungan, tapi tak perlu menunggu lama, ia pun ikut tertawa tak kalah keras dari Krystal. Apa yang sedang mereka tertawakan pun tak Jongin ketahui. Tawa Krystal yang menular seolah memerintahnya untuk tertawa juga.

Entah sejak kapan, tawa Krystal yang semula miris jadi manis; Jonginlah penyebabnya.

“Sudah puas tertawanya?” Tanya Jongin, Krystal mengangguk sambil diselipi sisa-sia tawanya. Ia tertawa lepas sekali hari ini. “tawamu ampuh juga buat menulariku.”

“Oh, ya?” tanya Krystal, dan Jongin mengangguk.

“Kupikir kau tidak akan mau tertawa di sampingku,” Jongin menatap rintik-rintik hujan, di sampingnya, Krystal mengunyah pelan-pelan (nyaris saja ia lupa dengan ramyun seharga dua ribu won-nya); penasaran dengan arah pembicaraan Jongin kali ini.

“Habis, dulu kita sering sekali bertengkar, sih. Momen kita tertawa bersama bisa dihitung jari, sepertinya,” katanya. Krystal menekan bibir, mengiyakan dalam hati.

Tertawa kecil, Jongin melanjutkan, “Kekanakan sekali ya kita. Salah bicara sedikit saja bisa jadi pertengkaran hebat.”

“Kita masih sangat amatir saat itu,” Krystal tidak tahu apa yang harus dikatakannya, tapi rentetan kata barusan keluar begitu saja dari bibirnya. Dan dua detik kemudian, tawa Jongin yang meledak membuat Krystal merasa sangat bodoh saat itu juga.

“Memangnya ada ya pacaran yang profesional?” cemoohan Jongin menusuk Krystal tepat sasaran. Mungkin jika itu terjadi dua tahun lalu—saat mereka masih bersama—akan ada pertengkaran yang mengakhiri pertemuan mereka.

“Berisik. Tawamu menyebalkan Jongin.”

“Kupikir aku tampan saat tertawa,” kata Jongin, masih tersisa tawanya yang menggelegar tadi. Dia berusaha meredamnya dengan senyum yang kelewat lebar.

Dia tampan—Krystal baru menyadarinya. Kemana saja aku selama delapan bulan menjalin hubungan dengan Jongin, tapi baru sadar kalau dia tampan?

“Jelek. Jongin Jelek,” Krystal melemparkan sisa ramyunnya ke tong sampah yang tepat ada di samping Jongin—tidak lagi berselera.

Hampir saja cup yang sudah tidak lagi berbentuk itu mengenai wajah Jongin, dan Krystal sengaja melakukannya—ia ingin Jongin berhenti tersenyum, itu tidak baik bagi kesehatan jantungnya.

“Baiklah-baiklah.” Jongin meredakan tawanya. Ia juga ikut-ikutan membuang cup ramyunnya. “Omong-omong, aku tidak melihatmu dua tahun belakangan ini. Kemana saja?”

Krystal mengerutkan kening mendengar kalimat Jongin. Dia lupa.

“Aku tetap di Korea setelah kita berpisah. Tapi lebih sering ke China untuk membantu bisnis kakakku,” setelah membiarkan Jongin menunggu jawabannya selama dua belas detik, kalimat tadi meluncur juga dari bibir Krystal. “Kita bertemu beberapa kali saat pesta dan persiapan pernikahan tahun lalu,” Krystal melanjutkan, suaranya makin pelan. Ia berharap Jongin tidak mendengarnya, tapi ternyata keinginannya tidak terkabul. Jongin membalas kalimatnya hanya dengan satu senyuman. Mungkin dia ingat.

Hening sesaat. Tapi kemudian Krystal kembali menyuarakan apa yang ada di dalam kepalanya, “bagaimana denganmu?” Krystal memberikan jeda sesaat. Ia pikir Jongin akan langsung menjawab, tapi karena tak kunjung mendapatkan apa yang ia inginkan, ia melanjutkan dengan hati-hati, “apa kepalamu sudah baikan?”

Krystal ingat.

Di malam saat mereka sama-sama menyerah, sama-sama pasrah, Krystal kalap; dibuat buta oleh amarah. Ia ingin Jongin berhenti berteriak, memaki, mencaci—ia ingin Jongin tidak menyerah padanya. Tapi tidak tahu bagaimana caranya.

Saat sudut matanya bertemu dengan vas bunga kaca di atas meja, ia menggila. Tanpa berpikir dua kali, vas bunga kaca itu pecah di kepala Jongin, menggores-gores hingga berdarah-darah.

Tragis, dramatis, miris.

Maka saat itu juga, Jongin dilarikan ke rumah sakit. Krystal menangis sejadi-jadinya saat dokter berkata Jongin mengalami luka serius. Benturan di kepala dan beban yang menggila membuat Jongin harus kehilangan ingatannya.

Jongin lupa dengan hubungan mereka. Krystal bersyukur, tapi tetap ada kutukan yang terucap.

Ada hening panjang. Napas Krystal terdengar jelas memburu, air matanya nyaris luruh. Namun pada akhirnya Jongin menjawab juga, “Ya, tentu.”

Krystal lega. Napasnya kembali normal, air matanya mengering—entah bagaimana bisa. Tapi masih ada pertanyaan lain di dalam kepalanya yang segan ia ajukan.

“Hubunganmu dengan kakakmu baik-baik saja, kan?” seperti rem blong yang tidak bisa dicegah, kata-kata itu pun terlontar begitu saja.

“Aku masih menemuinya untuk check-up rutin. Kami baik-baik saja, setidaknya dalam opiniku.”

Lalu hening kembali. Samar-samar suara hujan yang mulai mereda merayap ke pendengaran Krystal. Sementara Jongin sendiri tidak terbaca ekspresinya. Tapi Krystal tahu; Jongin tidak suka berbicara tentang kakaknya. Itu adalah topik sensitif, dan Krystal dengan bodohnya mengangkat topik itu ke permukaan.

“Oh, baguslah,” Krystal tidak ingin tawa yang barusan mereka bagi menguap menjadi butir-butir pertengkaran, jadi ia mengatakannya dengan pelan. Dan Jongin hanya tersenyum, tidak berkata apapun.

Tanpa disadari, diamnya Jongin menggoreskan lagi satu luka di sanubari. Tiba-tiba dada Krystal bergemuruh. Kenapa Jongin tidak berkata apapun? Kenapa Jongin tidak mencari obrolan topik lain untuk dibicarakan?

Kesal. Jongin selalu begini. Ia selalu menghindar. Jongin pasti tidak bicara untuk menghindar dari pertengkaran dengan Krystal. Padahal nyatanya, itu justru menimbulkan pergolakan di dalam kepala Krystal.

Kenapa Jongin tidak pernah mengerti dirinya?

Krystal mengusap ujung matanya sampai ke pipi. Basah.

~.~

Hujan sudah berhenti, dan waktu masih terus berputar. 16:47, begitu kata jam di ponsel Jongin. Krystal masih saja bungkam, padahal ramyunnya sudah dibuang. Krystal sudah tidak ada alasan lagi untuk duduk di dekatnya. Harusnya Krystal pulang saja, begitu Jongin berpikir. Lagipula Jongin berani taruh, ada seseorang yang menunggunya di apartemen.

Tapi Krystal tidak bergeming, diam seperti patung; gadis itu menunggu Jongin untuk bicara.

Jongin sadar betul. Ada air mata yang mengalir di pipi Krystal. Entah setajam apa air mata itu, sampai-sampai terasa goresan yang begitu nyata di nurani.

Kau bukan satu-satunya pihak yang tersakiti di siniaku juga.

Jongin diam saja saat Krystal bangkit dari duduknya. Air matanya masih mengalir, tidak deras memang. Sebelum mulai melangkah, ia menoleh pada Jongin sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Ada sesuatu yang berkilau di jemari Krystal. Sangat mengganggu.

Jongin semakin diam.

Jongin tidak sanggup. Bibirnya kaku, hatinya beku.

“Senang bertemu denganmu, Kim Jongin,” Krystal masih sanggup tersenyum. Jongin seakan-akan runtuh saat menatapnya tepat di mata. Matanya bercerita. “kalau-kalau kau lupa denganku, aku Krystal, mantan kekasihmu dua tahun lalu,” bibirnya bergetar, Jongin nyaris ambyar.

Tentu saja Jongin hapal. Mustahil ia tidak ingat.

Jongin berusaha sekeras mungkin untuk tidak bereaksi banyak. “Aku tidak lupa,” katanya, sambil nyengir lebar. Itu dipaksakan.

“Semoga kita bertemu lagi,” dan setelah itu, Krystal pergi. Ia tersenyum tipis, miris.

“Semoga kau bahagia dengannya, Krystal.” katanya pada punggung Krystal yang hilang ditelan mobil sedan hitam di seberang jalan. Jongin menangkap siluet seorang pria yang dikenalnya dengan sangat baik di dalam sedan itu, sesaat sebelum akhirnya lenyap.

Itu siluet kakaknya, Kim Joonmyeon, sekaligus suami Krystal.

Jongin ingin jujur. Tapi tolong jangan katakan pada Krystal, ya? Simpan rahasia ini ke dasar hati, gembok secara gaib, lalu telan kuncinya.

Sejujurnya, Jongin tidak pernah lupa ingatan. Amnesia tidak pernah hadir di dalam sejarah hidupnya. Benturan keras yang terjadi malam itu tidak berakibat sefatal itu. Kepalanya memang berdarah banyak, tapi tidak sampai melenyapkan memorinya.

Entah datang dari mana ide gila itu. Saat kepalanya berdenyut hebat, entah sadar atau tidak, Jongin berucap, untuk pertama kalinya memohon pada Joonmyeon—kakaknya. Padahal sebelumnya ia tidak pernah sudi memohon pada siapa pun, apalagi Joonmyeon. Tapi ini demi Krystal, demi kebaikan mereka berdua.

Tolong katakan pada Krystal kalau aku hilang ingatan.”

Dan Joonmyeon melakukannya.

Jongin tidak bisa menahan senyumnya, meski nyeri di hati kian terasa. Ia pikir itu adalah jalan yang terbaik untuk mereka berdua.

Mereka harus berhenti, meski artinya semakin menyakiti.

Saat Jongin hidup sangat normal setelah masa pemulihannya, Krystal terpuruk. Jongin ingin menyelamatkannya, tapi ia sadar diri tidak bisa melakukannya. Maka dari itu ia memohon kepada Joonmyeon.

Buatlah Krystal bahagia.”

Dan Joonmyeon melakukannya.

Ada pertemuan keluarga. Rumor kakaknya akan menikah menyebar cepat di keluarga Kim. Sudah pasti pertemuan keluarga itu untuk mengenalkan calon istri Joonmyeon.

Jongin tidak lagi kaget saat melihat Krystal ada di sana, tersenyum begitu lebar di samping kakaknya. Krystal terkejut, tentu saja. Tapi ia tidak berkata apapun.

Ada satu fakta yang mengganggu Jongin; gadis itu tidak tahu kebenarannya, gadis itu tidak tahu kalau Jongin tidak pernah amnesia. Jadi Jongin memanfaatkannya. Ia bersandiwara; ia memasang wajah manis, menganggap Krystal asing, pura-pura tidak pernah mengenal Krystal sebelumnya. Karena Krystal pun berlaku demikian padanya.

“Ini Krystal, calon istriku.”

Saat kalimat itu terucap dari bibir kakaknya, Jongin tersenyum.

Ini sudah saatnya merelakan.

LINE Group Chat – Aliens

Kimkaaaaaa : Ada Krystal tadi.

oohsehun : Terus?

oohsehun : Peduli?

baekhyunee : Dibiarin pergi lagi pasti.

Kimkaaaaaa : Ya.

Kimkaaaaaa : Dia nyapa, tapi aku masih sandiwara.

oohsehun : Jujur aja, gih.

Kimkaaaaaa : Mana bisa?

Kimkaaaaaa : Terlalu beresiko.

oohsehun : Bego. Terserah saja.

real__pcy : “Sometimes, love means letting go when you want to hold tighter.”

real__pcy : Basi.

baekhyunee : WKWKWKWK.

baekhyunee : Kasian banget.

baekhyunee : WKWKWKWK.

baekhyunee : Jangan nyesel aja sih nantinya.

Jongin mencibir. Ia menendang kerikil sambil scrolling window chat.

Menyesal apanya? Lagipula sudah sebaiknya ia berhenti, meski artinya Krystal juga merasakan sakit yang sama.

~.~

Author’s Note :

Maafin ya ending-nya FF ini gantung, gak jelas, aneh gini. Soalnya emang udah seharusnya kayak gini. ((hallah)) Dan ini juga Kaistal-nya sedih-sedih gak jelas gini. Huhu.

Aku harap kalian bisa menangkap maksud-maksud absurd yang terselip di cerita ini. Seperti sinyal kalau Krystal sama Jongin itu masih saling cinta tapi tidak bersama, gitu. Aku harap kalian juga gak menemukan plothole sialan yang udah sebisa mungkin aku tutup.

Aku juga berharap kalau feel-nya bisa sampe. Aku menulis ini untuk mencurahkan kefrustasian(??). Awalnya sih FF ini mau dibuat menye-menye lucu aja gitu tentang mantan ketemu mantan yang masih ada rasa. Tapi malah jadi angst gak jelas gini. Huh.

Anyway, terimakasih udah mau nyempetin baca. Saranghae ❤ sampai bertemu di FF atau postingan yang lain! Pyeongg~~

-Twelve

Advertisements

3 thoughts on “When I Was, When You Were”

  1. Sebenernya aku baca di krystal diary tapi malah komennya disini #terdampar sekaligus mau lihat karyamu yg laen >< selain art tentunya 🙂
    Nice deh.. sequel please :3

    1. Lol pantesan di seach terms ada judul ff ini.. Aku bingung siapa yang ngesearch tapi kayaknya kamu ya? 😂
      Aduh makasih udah repot-repot liat karya-karya abal di sini >< tapi gak ada sequel nih.. Maafkeun;;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s